RANGKUMAN
The Road Ahead: Strengthening Markets for Sustainable Growth
Special Remarks
Investor Daily Room
Jakarta, 08 Oktober 2026
Iding Pardi
Director of Business Development PT Bursa Efek Indonesia (BEI)
IDS 2026: Bursa Efek Indonesia Perkuat Transparansi dan Integritas Pasar Modal
JAKARTA- Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat fondasi pasar modal nasional melalui reformasi transparansi, integritas, dan investabilitas untuk membangun pasar yang lebih berkualitas serta berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi BEI dalam meningkatkan kepercayaan investor domestik dan global di tengah dinamika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Direktur Pengembangan Bisnis PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Iding Pardi, menyampaikan hal tersebut dalam Special Remarks bertajuk The Road Ahead: Strengthening Markets for Sustainable Growth di Investor Daily Room, Jakarta, pada 8 Oktober 2026.
Iding menegaskan bahwa keberhasilan pasar modal tidak cukup diukur dari besarnya kapitalisasi atau pergerakan indeks. Menurutnya, kualitas pasar, keberlanjutan pertumbuhan, serta kemudahan investor dalam mengakses dan menanamkan modal menjadi faktor penting dalam membangun pasar modal yang kuat.
Berdasarkan data yang disampaikan, hampir 70% investor pasar modal Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Kondisi ini menunjukkan tingginya partisipasi generasi muda dalam aktivitas investasi sekaligus memperkuat pentingnya kredibilitas dan fondasi pasar yang kokoh.
Mengacu pada prinsip yang disampaikan pembicara sebelumnya, Raffi Ahmad, Iding menyoroti dua aspek penting, yakni kredibilitas sebagai dasar membangun kepercayaan dan fondasi yang kuat sebagai prioritas dibandingkan mengejar pertumbuhan secara cepat.
Fundamental Pasar Tetap Menunjukkan Pertumbuhan
Dalam pemaparannya, Iding menjelaskan bahwa IHSG sempat mencapai rekor tertinggi pada Januari 2026 di level 9.135 sebelum mengalami koreksi yang cukup dalam. Sejak Juni 2026, indeks tersebut mulai menunjukkan proses stabilisasi dan pemulihan secara bertahap.
Meski demikian, pergerakan IHSG tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kondisi pasar modal. Iding mengibaratkan IHSG sebagai suhu tubuh yang dapat berubah ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan. Sementara itu, kondisi kesehatan secara menyeluruh perlu dinilai melalui pemeriksaan organ vital dan hasil tes darah. Dalam konteks pasar modal, pendekatan tersebut berarti penilaian perlu mempertimbangkan indikator fundamental lainnya.
Sejumlah indikator menunjukkan perkembangan positif. Rata-rata nilai transaksi harian bursa secara year-to-date (YTD) tercatat di atas Rp20 triliun per hari, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp18 triliun per hari. Sementara itu, total penggalangan dana mencapai Rp150 triliun dan jumlah perusahaan tercatat meningkat menjadi 962 emiten.
Dari sisi kinerja keuangan, lebih dari 75% emiten mencatatkan laba bersih per Juni 2026. Pertumbuhan pendapatan emiten berada di atas 13%, sedangkan pertumbuhan laba bersih mencapai lebih dari 9%.
Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Dari sekitar 20 juta investor pada akhir 2020, jumlahnya meningkat menjadi 32,1 juta investor. Dalam summary paparan, pertumbuhan tersebut disebut mencapai lebih dari 50% dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Tiga Pilar Reformasi Pasar Modal
Untuk memperkuat kepercayaan investor dan menjawab perhatian penyedia indeks global, termasuk MSCI, BEI menjalankan reformasi melalui tiga pilar utama, yaitu transparansi, integritas, dan investabilitas.
Pada aspek transparansi, BEI memperluas keterbukaan informasi kepemilikan saham publik. Batas pengungkapan yang sebelumnya berada di atas 5% diturunkan menjadi di atas 1%. Perubahan ini memungkinkan publik memperoleh informasi kepemilikan saham emiten secara lebih terperinci.
BEI juga memperluas klasifikasi tipe investor dari sembilan menjadi 39 kategori. Pendetailan tersebut ditujukan untuk memetakan afiliasi investor dan menghitung real free float secara lebih presisi.
Pada aspek integritas, BEI menerapkan High Shareholding Concentration (HC) untuk memberikan peringatan dan meningkatkan transparansi terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan pada pihak tertentu. Selain itu, metrik Price Impact Ratio digunakan untuk mengukur pengaruh volume transaksi terhadap pergerakan harga sekaligus memberikan indikasi mengenai likuiditas riil pasar.
Adapun pada aspek investabilitas, BEI meningkatkan komunikasi dan keterlibatan dengan penyedia indeks global serta investor internasional. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat kepercayaan modal global terhadap pasar modal Indonesia. Pengumuman tindak lanjut dari penyedia indeks global dijadwalkan pada November 2026, berdasarkan paparan yang dirangkum.
BEI Perluas Pilihan Investasi dan Likuiditas
Selain reformasi struktural, BEI mendorong pendalaman pasar melalui perluasan pilihan produk investasi dan peningkatan likuiditas perdagangan.
Salah satu langkah yang disampaikan adalah peluncuran E-Emas, yaitu emas digital berbentuk exchange-traded fund (ETF), yang dirancang untuk memberikan akses investasi yang likuid, transparan, dan mudah dijangkau secara digital.
BEI juga memperkaya pilihan produk non-saham, termasuk instrumen derivatif, reksa dana, dan ETF, untuk mengakomodasi beragam profil risiko investor.
Dari sisi likuiditas, BEI menyediakan skema Liquidity Provider dan mengaktifkan kembali transaksi short selling secara terbatas sejak awal Oktober 2026. Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas instrumen perdagangan dan mendukung pendalaman pasar.
Menuju Pasar Modal yang Lebih Berkualitas
Iding menekankan bahwa pasar modal memiliki peran strategis sebagai infrastruktur ekonomi nasional. Pasar modal yang terpercaya dapat menarik aliran modal untuk mendukung ekspansi perusahaan. Aktivitas tersebut selanjutnya berpotensi mendorong investasi produktif, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, arah pengembangan BEI tidak hanya berfokus pada pembentukan pasar yang lebih besar atau bigger market, tetapi juga pasar yang lebih baik atau better market.
Pasar yang lebih baik ditandai oleh transparansi, integritas, kedalaman dan likuiditas yang memadai, serta daya saing global. Melalui penguatan fondasi dan reformasi berkelanjutan, BEI menargetkan pasar modal yang semakin kompetitif dan berkelas dunia, sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia. (Vebriansyah Pratama Putra)