RANGKUMAN
Building Indonesia’s Next Economic Powerhouse
Keynote Speech: Special Session 1
Investor Daily Plenary Room
Jakarta, 08 Oktober 2026
Dony Oskaria
Chief Operating Officer (COO) of Danantara Indonesia
Head of State-Owned Enterprises Regulatory Agency (BP BUMN)
IDS 2026: Dony Oskaria Dorong Transformasi BUMN untuk Perkuat Fondasi Ekonomi Indonesia
JAKARTA- Transformasi badan usaha milik negara (BUMN), penguatan kualitas sumber daya manusia, dan pembenahan tata kelola investasi menjadi bagian penting dari upaya membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih kuat. Pemerintah mendorong pergeseran dari pertumbuhan ekonomi yang dinilai semu dan rapuh menuju pertumbuhan yang kokoh, merata, serta berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), dalam pidato kunci bertajuk “Building Indonesia’s Next Economic Powerhouse” pada Special Session 1 di Investor Daily Plenary Room, Jakarta, 8 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, Dony menekankan bahwa negara maju membutuhkan fondasi ekonomi yang bertumpu pada industri. Sektor industri dinilai penting untuk menyerap tenaga kerja secara optimal, memperkuat basis penerimaan pajak, dan mengurangi ketergantungan terhadap keunggulan komoditas alam semata.
Penguatan SDM Menjadi Fondasi Transformasi Ekonomi
Pembangunan ekonomi, menurut paparan tersebut, perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Summary mencatat angka stunting nasional masih berada di level 19%, sementara akses pendidikan dan fasilitas kesehatan masih menghadapi ketimpangan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menempatkan sejumlah intervensi sebagai bagian dari pembangunan kualitas manusia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk membantu memutus mata rantai stunting sekaligus mendukung kesiapan fisik dan intelektual generasi penerus.
Di bidang pendidikan, Sekolah Rakyat dirancang untuk memberikan akses pendidikan bagi masyarakat pada desil 1 dan desil 2, yakni kelompok masyarakat paling rentan dan miskin. Program ini digambarkan sebagai sekolah berasrama dengan jaminan tempat tinggal, makanan bergizi, dan pendidikan tanpa biaya. Sementara itu, SMA Garuda ditujukan bagi siswa dengan kemampuan intelektual tinggi, dengan kriteria IQ 120 ke atas.
Pada sektor kesehatan, upaya peningkatan kualitas manusia juga mencakup revitalisasi Puskesmas, pembenahan rumah sakit umum daerah (RSUD), serta penyediaan program pemeriksaan kesehatan gratis.
Intervensi tersebut menempatkan gizi, pendidikan, dan kesehatan dasar sebagai bagian dari fondasi pembangunan jangka panjang. Penguatan kualitas manusia diharapkan dapat mendukung kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi yang diperlukan oleh industri nasional.
Danantara Mengandalkan Konsolidasi BUMN sebagai Sumber Modal
Dalam pemaparannya, Dony menjelaskan karakteristik Danantara Indonesia sebagai sovereign wealth fund (SWF) berbasis BUMN. Berbeda dengan model SWF yang umumnya dibiayai dari surplus fiskal negara, Danantara disebut memperoleh keberlanjutan dan kapasitas modal melalui konsolidasi perusahaan-perusahaan milik negara.
Untuk mengelola risiko investasi, struktur Danantara dibagi menjadi dua bagian. Danantara Asset Management berperan sebagai konsolidator dan pengelola operasional portofolio BUMN. Sementara itu, Danantara Investment Management berfungsi sebagai lengan investasi yang menerima aliran dividen dari Asset Management tanpa memegang atau menjaminkan aset fisik maupun saham perusahaan BUMN secara langsung.
Pemisahan tersebut ditujukan untuk mencegah pencampuran risiko antara pengelolaan aset BUMN dan aktivitas investasi. Dalam model yang dipaparkan, aliran dividen dapat dimanfaatkan melalui skema pembiayaan proyek, investasi bersama, dan pendanaan ekuitas.
Skema leverage tersebut diproyeksikan memungkinkan pembiayaan proyek strategis mencapai 10 hingga 15 kali lipat dari modal dasar. Dengan pendekatan ini, Danantara diharapkan dapat memanfaatkan sumber daya BUMN untuk mendukung pembiayaan investasi yang lebih luas.
Rasionalisasi 1.074 Entitas BUMN
Salah satu agenda utama yang disoroti adalah penataan portofolio perusahaan negara. Dari total 1.074 anak, cucu, dan cicit perusahaan BUMN yang diidentifikasi memiliki tumpang tindih kegiatan atau dinilai tidak efisien, dilakukan perampingan menuju sekitar 200 perusahaan inti unggulan hingga akhir tahun berjalan.
Penataan dilakukan melalui tiga tahap penilaian. Pertama, perusahaan dibandingkan dengan tolok ukur global di sektor masing-masing, termasuk pelabuhan, jalan tol, kontraktor, bandara, dan perbankan. Penilaian mencakup model pendapatan, struktur biaya, EBITDA, serta margin laba.
Kedua, dilakukan analisis siklus pasar untuk mengidentifikasi industri yang masih bertumbuh dan industri yang telah memasuki fase penurunan. Ketiga, perusahaan dievaluasi dari sisi kapabilitas internal, termasuk kondisi keuangan, kesiapan organisasi, dan kualitas sumber daya manusia.
Berdasarkan hasil penilaian, penataan portofolio dapat dilakukan melalui likuidasi, divestasi, konsolidasi sektoral, atau restrukturisasi internal. Likuidasi diarahkan pada entitas dengan ketidakseimbangan neraca yang berat, sedangkan divestasi dilakukan terhadap lini usaha yang dinilai bukan bagian dari bisnis inti.
Contoh lini usaha non-inti yang disebut dalam summary meliputi hotel, rumah sakit, sistem penyediaan air minum (SPAM), dan jaringan serat optik yang dimiliki oleh entitas perkebunan atau pelabuhan.
Konsolidasi juga direncanakan di sejumlah sektor. Sebanyak 23 pengelola kawasan industri akan digabungkan, dengan total lahan kelolaan 35.000 hektare yang disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, lima manajer investasi direncanakan menjadi satu perusahaan manajemen aset terbesar nasional.
Agenda konsolidasi lainnya mencakup 16 perusahaan asuransi, perusahaan sekuritas, 60 rumah sakit BUMN, serta lebih dari 100 jaringan hotel. Di tingkat internal perusahaan, summary juga mencatat likuidasi dan penutupan 124 anak usaha di Pertamina serta 50 anak usaha di PT Telkom.
Pembersihan Neraca dan Penguatan Disiplin Investasi
Pembenahan tata kelola keuangan menjadi bagian lain dari transformasi BUMN. Dalam summary, Dony menyampaikan bahwa penurunan nilai aset atau impairment lebih dari Rp100 triliun telah dilakukan, disertai kebijakan cut loss dan penghapusbukuan untuk membersihkan neraca dari praktik rekayasa keuangan masa lalu. Kasus PT PP dan PT Kimia Farma disebut sebagai contoh persoalan yang menjadi perhatian dalam pembenahan tersebut.
Untuk mencegah investasi yang tidak didukung perhitungan kelayakan memadai, dibentuk Komite Investasi wajib. Mekanisme ini ditujukan untuk menekan praktik over-investment, yakni pengeluaran modal yang tidak disertai kalkulasi imbal hasil investasi atau return on investment (ROI) secara matang.
Dalam pemaparan tersebut, proyek blast furnace Krakatau Steel disebut sebagai contoh proyek mangkrak dengan beban utang Rp6 triliun. Sementara itu, pabrik Kimia Farma disebut memiliki tingkat utilisasi sebesar 40%. Pembenahan tidak hanya dilakukan melalui penutupan atau penghapusan aset, tetapi juga melalui perubahan model bisnis perusahaan agar lebih efisien dan berorientasi pada kinerja.
Perubahan Model Bisnis Dorong Efisiensi dan Laba
PT Pupuk Indonesia menjadi salah satu contoh transformasi model bisnis yang disoroti. Perusahaan tersebut mengubah pendekatan dari skema cost-plus menjadi mark-to-market. Perubahan itu, menurut summary, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan laba hampir 300%, sekaligus diikuti revitalisasi delapan pabrik pupuk.
Di sektor semen dan kelistrikan, agenda pembenahan mencakup relokasi operasional, penataan pembangkit dan transmisi, serta perbaikan strategi penetapan harga atau pricing strategy.
Sementara itu, Pertamina melakukan penggabungan rantai hilir melalui downstream merger antara PT Pertamina Patra Niaga dan PT Kilang Pertamina Internasional. Langkah tersebut disebut menghasilkan efisiensi dan tambahan laba bersih sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp15 triliun dalam kurun waktu enam bulan.
Dari sisi kinerja keuangan, summary mencatat laba kotor konsolidasi BUMN sebesar Rp326 triliun pada tahun berjalan. Setelah dilakukan pembersihan buku, laba bersih yang tersisa disebut mencapai Rp276 triliun. Untuk 2026, target laba bersih konsolidasi BUMN ditetapkan minimal Rp360 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pembenahan portofolio dan perubahan model bisnis ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kinerja keuangan BUMN. Namun, pencapaian target tetap bergantung pada pelaksanaan strategi dan kondisi usaha masing-masing perusahaan.
KPBU Didorong untuk Memperbesar Efek Pengganda Investasi
Selain mengandalkan konsolidasi BUMN, pemerintah juga membuka ruang partisipasi swasta melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Dalam contoh yang disampaikan, uang muka sebesar Rp100 triliun melalui skema KPBU dengan tenor 10 tahun disebut berpotensi menggerakkan proyek pembangunan riil senilai Rp1.000 triliun. Contoh tersebut menggambarkan konsep efek pengganda investasi, yaitu penggunaan dana awal untuk mendorong pembiayaan dan aktivitas ekonomi dalam skala lebih besar.
Pelibatan swasta menjadi bagian dari pendekatan pembiayaan yang berupaya memperluas kapasitas investasi tanpa hanya bertumpu pada sumber daya pemerintah atau BUMN.
Transformasi BUMN untuk Membangun Ekonomi Berbasis Industri
Paparan Dony Oskaria menempatkan transformasi BUMN sebagai bagian dari perubahan fondasi ekonomi Indonesia. Penguatan kualitas manusia, pemusatan portofolio pada perusahaan inti, pembersihan neraca, disiplin investasi, dan pembukaan ruang bagi modal swasta diarahkan untuk membangun perusahaan negara yang lebih efisien dan produktif.
Pada saat yang sama, pembangunan ekonomi jangka panjang membutuhkan basis industri yang mampu menyerap tenaga kerja, memperkuat penerimaan negara, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar.
Melalui konsolidasi perusahaan, perbaikan tata kelola, dan penguatan kerja sama investasi, agenda transformasi tersebut diharapkan dapat mendukung pergeseran menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih kokoh, merata, dan berkelanjutan. (Vebriansyah Pratama Putra)