Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari luar negeri masih sangat tinggi. Dari total kebutuhan nasional yang mencapai 8,5 juta ton hingga 9 juta ton per tahun, sebanyak 80-87% (atau sekitar 7,1 juta ton sampai 7,5 juta ton) di antaranya masih harus dipenuhi melalui impor.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, total kebutuhan LPG nasional saat ini adalah 9 juta ton per tahun. “Total kebutuhan LPG nasional kita mencapai 8,5 juta hingga 9 juta ton per tahun. Angka tersebut terdiri dari 8,52 juta MT LPG subsidi dan 0,74 juta MT non-subsidi,” ujar Bahlil dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10). Sementara itu, data neraca kebutuhan nasional di laman resmi Kementerian ESDM mencatat rata-rata konsumsi LPG masyarakat kini berada di kisaran 8,6 juta ton per tahun.
Di sisi lain, kapasitas produksi kilang domestik baru mampu menghasilkan sekitar 1,6 juta hingga 1,91 juta ton per tahun, atau hanya sanggup menutup sekitar 22,4% dari total kebutuhan dalam negeri.
Kondisi minimnya produksi LPG domestik ini dipengaruhi oleh karakteristik alami gas bumi Indonesia yang mayoritas mengandung fraksi C1 dan C2. Kandungan tersebut sangat cocok diolah menjadi gas alam cair (LNG) yang saat ini sekitar 30% produksinya diekspor, sementara bahan baku utama pembuatan LPG memerlukan fraksi C3 dan C4.
"Gas alam Indonesia dominan mengandung fraksi C1 dan C2 yang sangat cocok untuk LNG, sedangkan bahan baku LPG memerlukan fraksi C3 dan C4," tambah Bahlil.
Guna menekan tingginya ketergantungan impor dan menjaga ketahanan energi, Kementerian ESDM terus merumuskan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi gas domestik. Salah satu opsi yang tengah dikaji secara serius adalah pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri. Kebutuhan bahan baku CNG sendiri dapat dipasok oleh industri domestik melalui pencairan gas alam berkandungan dominan metana (C1) dan etana (C2) guna memudahkan penyimpanan serta pengangkutan, sebelum akhirnya dimampatkan ke tingkat tekanan tertentu. Sektor niaga bahan bakar ini sendiri kini telah didukung oleh 57 badan usaha aktif.