Kenaikan harga komoditas global akibat konflik geopolitik Timur Tengah mulai berdampak luas terhadap harga barang di dalam negeri. Per Senin (27/04), harga minyak Brent berjangka tercatat mencapai US$ 100,78 per barel atau naik 65,89% sepanjang 2026. Lonjakan ini mendorong kenaikan berbagai komoditas energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG non subsidi seiring dengan tingginya impor nasional di sektor ini.
PT Pertamina Patra Niaga mencatatkan kenaikan harga BBM non subsidi yang signifikan. Tiga jenis BBM, yaitu Pertamina Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami kenaikan dalam rentang 48%-66% sejak Sabtu (18/4/2026). Kenaikan juga terjadi pada harga avtur di seluruh bandara dalam negeri yang berlaku untuk penerbangan domestik maupun internasional. Melansir data Pertamina, harga avtur untuk penerbangan domestik naik hingga 72,45% dari kisaran Rp 13.656-Rp 15.248 menjadi Rp 23.551-Rp 25.554.
Selain BBM dan avtur, harga LPG non subsidi turut mengalami penyesuaian. PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan harga LPG tabung 5,5 kg naik sebesar 14,53% hingga 18,89%, sementara LPG tabung 12 kg meningkat sekitar 18,75-24,45%.
Kenaikan harga energi ini juga merambat ke sektor industri, terutama petrokimia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, harga plastik di Indonesia per April 2026 melonjak sekitar 80%-100% akibat terganggunya pasokan nafta sebagai bahan baku utama. Harga biji plastik PP bahkan mencapai Rp 66.900-Rp 102.900 per kg.
Dampak lanjutan juga dirasakan pada komoditas pangan impor. Harga kedelai impor naik dari Rp 9.800 menjadi sekitar Rp 10.500-Rp 11.500 per kg atau meningkat hingga 22,45%. Kenaikan ini seiring dengan naiknya kedelai AS Berjangka yang naik 10,73% dalam 3 bulan terakhir menjadi US$ 1.182,75 pada Senin (27/4).
Meski demikian, Badan Pangan Nasional memastikan harga kedelai impor tidak akan melebihi Rp 12.000 per kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan harga energi global tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga merembet ke sektor industri dan pangan.