Sebagian besar sumur minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia saat ini belum beroperasi secara optimal. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Maret 2026, dari total 47.161 sumur migas yang terdata di seluruh Indonesia, baru 18.486 sumur yang tercatat aktif berproduksi.
Kementerian ESDM mencatat sebanyak 10.457 sumur masuk kategori idle atau menganggur dan tidak berproduksi. Dari jumlah sumur menganggur tersebut, sebanyak 7.345 sumur sebetulnya masih menyimpan potensi cadangan hidrokarbon yang layak dikembangkan kembali, sedangkan 3.112 sumur sisanya sudah tidak memiliki potensi.
Selain itu, terdapat 5.369 sumur yang difungsikan untuk kegiatan injeksi serta pemantauan lapangan (observasi). Sementara itu, sebanyak 12.849 sumur lainnya tergolong non-produktif karena ditinggalkan (abandon), kering (dry hole), belum memiliki kelengkapan data, atau fisiknya tidak ditemukan di lapangan.
Kondisi banyaknya sumur yang belum produktif ini juga ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10), Bahlil menyoroti populasi sumur minyak nasional yang didominasi sumur berusia tua.
"Dari total 40.000 sumur minyak di Indonesia, sumur yang aktif dan produktif hanya 17.000 sampai 18.000 sumur. Sisanya dalam kondisi idle atau tua (matured wells)," ujar Bahlil.
Untuk mendongkrak kembali lifting minyak nasional, pemerintah menyiapkan langkah reaktivasi secara bertahap. Kementerian ESDM menargetkan menghidupkan kembali 1.574 sumur pada 2027, yang mencakup reaktivasi 744 sumur non-produktif serta 830 sumur menganggur tambahan.