Kinerja ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan capaian yang beragam sepanjang 2025 hingga Semester I 2026. Sejumlah indikator telah memenuhi atau bahkan melampaui target, tetapi beberapa indikator lainnya masih menghadapi kesenjangan cukup besar, terutama penciptaan lapangan kerja, kemiskinan, dan lifting minyak.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, realisasi 2025 mencapai 5,11%, sedikit di bawah target sebesar 5,2%. Memasuki 2026, pertumbuhan ekonomi hingga Semester I tercatat 5,45%, lebih tinggi dari target tahunan sebesar 5,4%. Pemerintah kemudian menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6,0%, menunjukkan ambisi untuk meningkatkan laju ekspansi ekonomi.
Pada indikator investasi, realisasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,20 triliun, sedikit melampaui target Rp1.905,60 triliun atau sekitar 1,34% lebih tinggi. Hingga Semester I 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010,60 triliun, atau sekitar 49,5% dari target tahunan Rp2.041,30 triliun. Target investasi kemudian dinaikkan menjadi Rp2.322 triliun pada 2027.
Namun, penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu tantangan terbesar. Pada 2025 tercatat 3,27 juta lapangan kerja, sedangkan target 2026 mencapai 4 juta lapangan kerja. Hingga Mei 2026, realisasinya baru sekitar 0,28 juta, atau sekitar 7% dari target tahunan. Untuk 2027, pemerintah menargetkan penciptaan 2,57–3,49 juta lapangan kerja, sehingga akselerasi penciptaan pekerjaan produktif masih menjadi pekerjaan rumah.
Dari sisi kemiskinan, realisasi 2025 sebesar 8,25% masih lebih tinggi dibandingkan target 8,0%. Kondisi tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Maret 2026, tingkat kemiskinan tercatat 8,07%, sementara target tahunannya sebesar 7,5%. Untuk 2027, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada kisaran 6,0–6,5%, yang berarti diperlukan penurunan cukup signifikan dari posisi 2026.
Sementara itu, investasi hilirisasi menunjukkan perkembangan cukup besar. Realisasi investasi hilirisasi pada 2025 belum dicantumkan, sedangkan hingga Semester I 2026 telah mencapai Rp300,10 triliun dari target tahunan Rp584,10 triliun, atau sekitar 51,4%. Capaian tersebut menunjukkan realisasi telah melewati separuh target tahunan meski masih membutuhkan tambahan investasi pada semester II.
Pada sektor energi, lifting minyak masih menjadi tantangan. Realisasi 2025 sebesar 605,61 ribu barel per hari, sedikit di atas target 605 ribu barel per hari. Namun, hingga Juni 2026, realisasinya baru 575,60 ribu barel per hari, masih 34,4 ribu barel per hari di bawah target 610 ribu barel per hari. Pemerintah menargetkan lifting minyak sebesar 612,5 ribu barel per hari pada 2027.
Berbeda dengan kemiskinan dan lifting minyak, ketimpangan pendapatan menunjukkan perkembangan positif. Rasio Gini 2025 tercatat 0,363, lebih rendah dari target 0,382. Hingga Maret 2026, Rasio Gini kembali berada di 0,368, lebih rendah dari target 0,380. Pada 2027, pemerintah menargetkan Rasio Gini berada di kisaran 0,360–0,365.
Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Prabowo-Gibran menunjukkan hasil yang mixed. Pertumbuhan ekonomi dan investasi relatif berada di jalur target, sementara ketimpangan bahkan lebih baik dari sasaran. Namun, penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, dan peningkatan lifting minyak masih memerlukan akselerasi. Dengan target 2027 yang semakin tinggi—terutama pertumbuhan ekonomi 6%, investasi Rp2.322 triliun, serta kemiskinan 6,0–6,5%—tantangan utama pemerintah adalah memastikan peningkatan aktivitas ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi lebih banyak lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.