Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejumlah lapangan usaha mencatat penambahan tenaga kerja. Melansir laporan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Badan Pusat Statistik (BPS), perdagangan besar dan eceran menjadi sektor dengan tambahan tenaga kerja terbanyak, mencapai 1,08 juta orang sepanjang 2024-2026.
Kemnaker memproyeksikan tenaga kerja di sektor perdagangan besar dan eceran mencapai 28,41 juta orang pada 2026, meningkat dari 27,33 juta orang pada Agustus 2024. Industri pengolahan juga bertambah 1,02 juta tenaga kerja, sedangkan akomodasi dan makan minum menyumbang tambahan 0,87 juta tenaga kerja sepanjang 2024-2026.
Lebih lanjut,sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menambah 0,78 juta tenaga kerja pada periode yang sama. BPS mencatat sektor tersebut masih mendominasi jumlah tenaga kerja nasional, sementara Kemnaker memperkirakan jumlah pekerjanya mencapai 41,53 juta orang pada 2026.
Adapun Kemnaker menyebut penambahan tenaga kerja di sektor pertanian sejalan dengan pelaksanaan program ketahanan pangan nasional, termasuk perluasan lahan produktif dan food estate. Pergeseran tenaga kerja juga mencerminkan masuknya kembali pekerja ke sektor informal pedesaan akibat tekanan ekonomi di perkotaan.
Di sisi lain, sektor real estat mengalami kontraksi dalam dua tahun terakhir. Menurut data BPS, jumlah tenaga kerja sektor ini sebesar 0,60 juta orang pada 2024 dan diperkirakan turun menjadi 0,55 juta pada 2026 akibat menurunnya permintaan di tengah pelemahan daya beli masyarakat.
Secara total, jumlah tenaga kerja menurut indikator lapangan usaha berpeluang bertambah hingga 6,04 juta orang pada 2026 dibanding pada 2024 lalu.