Perekonomian Indonesia tetap tumbuh di kisaran 5% hingga Semester I-2026, dengan konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah menjadi sejumlah penopang utama. Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada Triwulan II-2026, setelah tumbuh 5,61% pada Triwulan I-2026. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Semester I-2026 mencapai 5,45%.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu fondasi utama pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhannya meningkat dari 4,95% pada Triwulan I-2025 menjadi 5,52% pada Triwulan I-2026, sebelum sedikit melandai menjadi 5,06% pada Triwulan II-2026. BPS mencatat konsumsi masyarakat menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada Triwulan I-2026, dengan kontribusi terhadap pertumbuhan mencapai 2,94 poin persentase. Mobilitas masyarakat, momentum Idulfitri dan libur nasional, serta berbagai stimulus pemerintah turut menopang konsumsi.
Konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan paling tinggi pada awal 2026. Setelah mengalami kontraksi 1,22% pada Triwulan I-2025 dan 0,32% pada Triwulan II-2025, konsumsi pemerintah tumbuh 4,55% pada Triwulan IV-2025, kemudian melonjak 21,81% pada Triwulan I-2026 dan masih tumbuh tinggi 15,97% pada Triwulan II-2026. Secara Semester I-2026, konsumsi pemerintah tumbuh 18,62%. BPS mengaitkan penguatan tersebut antara lain dengan peningkatan realisasi belanja pemerintah.
Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat. Setelah tumbuh 2,12% pada Triwulan I-2025, PMTB meningkat menjadi 6,99% pada Triwulan II-2025 dan 6,12% pada Triwulan IV-2025. Pada 2026, PMTB tumbuh 5,96% pada Triwulan I dan kembali menguat menjadi 6,87% pada Triwulan II. Perkembangan ini menunjukkan investasi tetap menjadi salah satu komponen penting dalam menopang ekspansi ekonomi. Pada Triwulan I-2026, BPS menyebut pertumbuhan PMTB antara lain didorong investasi pemerintah dan swasta.
Berbeda dengan konsumsi dan investasi, pertumbuhan ekspor cenderung melambat dibandingkan 2025. Ekspor sempat tumbuh tinggi sebesar 10,14% pada Triwulan II-2025 dan 9,14% pada Triwulan III-2025, tetapi melambat menjadi 3,25% pada Triwulan IV-2025. Pada Triwulan I-2026, pertumbuhannya hanya 0,90%, sebelum meningkat menjadi 4,13% pada Triwulan II-2026. Dengan demikian, ekspor belum menunjukkan laju pertumbuhan setinggi periode pertengahan 2025.
Dari sisi produksi, industri pengolahan tetap menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional. Kontribusinya berada di kisaran 19,78–20,45% sepanjang periode yang ditampilkan. Pada Triwulan II-2026, industri pengolahan menyumbang 19,78% terhadap PDB, meski pertumbuhannya melambat menjadi 4,52%, dari 5,04% pada Triwulan I-2026. BPS mencatat industri pengolahan tetap menjadi salah satu dari lima sektor utama penyumbang PDB.