Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia melambat menjadi 4,52% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II-2026. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan triwulan II-2025 yang masih mencapai 5,68% yoy.
Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat lebih tinggi, yakni sebesar 5,29% yoy, sehingga kinerja sektor manufaktur berada di bawah laju pertumbuhan PDB Indonesia.
Perlambatan tersebut sejalan dengan kondisi aktivitas manufaktur yang sempat mengalami kontraksi. S&P Global melaporkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026.
Nilai PMI yang berada di bawah level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada pada fase kontraksi. Menurut S&P Global, pelemahan tersebut dipicu oleh menurunnya permintaan terhadap barang-barang manufaktur.
Meski demikian, aktivitas manufaktur mulai menunjukkan tanda pemulihan pada Juli 2026. S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia kembali naik ke level 50,20 sehingga kembali memasuki zona ekspansi.
Kendati demikian, dalam jangka panjang pertumbuhan sektor manufaktur masih menunjukkan tren perlambatan. Data BPS mencatat pertumbuhan PDB manufaktur telah turun dari 6,58% yoy pada triwulan II- 2021 menjadi 4,52% yoy.