Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I-2026 masih membukukan surplus sebesar US$ 3,58 miliar. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh surplus perdagangan komoditas nonmigas yang mencapai US$ 19,35 miliar.
Meski demikian, secara bulanan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$ 450 juta pada Juni 2026. Menurut BPS, defisit tersebut terutama dipicu oleh perdagangan komoditas migas yang mencatatkan defisit sebesar US$ 3,49 miliar.
Di sisi lain, sejumlah komoditas nonmigas turut menjadi penyumbang defisit perdagangan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Data BPS menunjukkan mesin dan peralatan mekanis menjadi komoditas dengan defisit terbesar, yakni mencapai US$ 15,93 miliar.
Selanjutnya, mesin dan perlengkapan elektrik mencatatkan defisit sebesar US$ 7,98 miliar, plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 4,72 miliar, serealia sebesar US$ 1,85 miliar, serta kendaraan udara dan bagiannya sebesar US$ 1,83 miliar.