Indonesia tengah mempercepat pembangunan Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui penerapan konsep waste to energy (WtE). Proyek tersebut mencakup 31 area aglomerasi dengan total kapasitas pengolahan mencapai 40 ribu ton sampah per hari dan ditargetkan mulai beroperasi di awal 2028. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dari limbah perkotaan.
Sejumlah negara sebelumnya telah berhasil menerapkan teknologi waste to energy sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah nasional. Melansir laporan Environesia, Swedia memiliki lebih dari 30 fasilitas insinerator modern yang mampu menghasilkan panas untuk sistem pemanas distrik dan listrik melalui pembakaran limbah padat secara efisien dengan tingkat polusi yang rendah. Bahkan, negara tersebut mengimpor sampah dari negara lain untuk diolah menjadi energi.
Sementara itu, Jepang mengelola lebih dari 70% sampah melalui sistem insinerasi modern dengan teknologi pemurnian gas buang yang canggih. Salah satu fasilitasnya, Hikarigaoka Plant di Tokyo, mampu mengolah 300 ton sampah per hari dengan turbin uap berkapasitas 9 MW, sedangkan Toshima Plant di Tokyo memiliki kapasitas 400 ton per hari dan menghasilkan listrik sebesar 7,8 MW yang memasok kebutuhan sekitar 20 ribu rumah.
Keberhasilan serupa juga terlihat di Singapura yang mengoperasikan beberapa fasilitas waste to energy berskala besar. Salah satu fasilitasnya, Tuas South Incineration Plant, memiliki kapasitas 3 ribu ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 80 MW. Sementara, TuasOne WTE Plant mampu mengolah 3,6 ribu ton sampah per hari dengan produksi listrik mencapai 120 MW, sedangkan Keppel Seghers Tuas berkapasitas 800 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 22 MW melalui skema kemitraan pemerintah dan swasta. Model pembiayaan tersebut dinilai mampu mengurangi beban investasi pemerintah sekaligus membuktikan bahwa Singapura dapat mengelola sampah secara modern untuk memenuhi kebutuhan energi perkotaan.
Negara lain juga menunjukkan keberhasilan serupa. Korea Selatan mampu menangani limbah dengan kadar air dan kandungan organik yang tinggi melalui lebih dari 35 pembangkit WtE termal. Di Jerman, sebanyak 67% sampah berhasil didaur ulang dan 31% dikonversi menjadi energi menggunakan teknologi gasifikasi dan insinerasi bersih dengan pengendalian emisi yang ketat.
Sementara itu, Belanda mengolah limbah non-daur ulang melalui sistem insinerasi, sedangkan limbah organik dimanfaatkan menjadi biogas dan energi untuk sistem pemanas perkotaan. Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis teknologi tidak hanya mampu mengurangi volume limbah, tetapi juga menjadi sumber energi alternatif yang mendukung ketahanan energi dan mengatasi permasalahan timbulan sampah.