Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu krisis energi global, ditandai dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah mencapai US$ 100 per barel. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, Indonesia mulai mengakselerasi diversifikasi energi. Salah satu langkah yang ditempuh yakni mempercepat implementasi program mandatori B50, sekaligus mendorong pemanfaatan energi alternatif lain seperti bioetanol.
Meski telah mulai digunakan, pengembangan bioetanol di Indonesia masih tertinggal dibandingkan biodiesel. Padahal, sumber energi ini memiliki potensi besar karena didukung ketersediaan bahan baku dan lahan yang luas. Percepatan implementasi Perpres No 40/2023 serta optimalisasi sumber daya iptek dan bahan baku dinilai dapat meningkatkan kelayakan ekonomi bioetanol di dalam negeri.
Namun demikian, laporan CELIOS berjudul ‘Why are Food Estates Not The Answer For Food and Energy Security’ pada April 2026 menunjukkan bahwa pemanfaatan bioetanol di Indonesia belum optimal. Dari sisi biaya, produksi bioetanol domestik masih berada di kisaran US$ 0,70-0,90 per liter atau sekitar dua kali lebih mahal dibandingkan Brasil yang merupakan produsen bioetanol terbesar ke dua di dunia.
Adapun menurut data laporan CELIOS, biaya produksi bioetanol di Brasil hanya sebesar US$ 0,35-0,40 per liter. Tingginya biaya bioetanol di Indonesia dipicu oleh mahalnya bahan baku akibat persaingan dengan industri lain seperti MSG, serta belum adanya fasilitas terintegrasi yang menyebabkan konsumsi energi tinggi dan biaya pengelolaan limbah lebih besar.
Sebaliknya, Brasil mampu menekan biaya produksi melalui sistem industri terintegrasi. Negara tersebut memanfaatkan ampas tebu untuk kogenerasi energi serta limbah cair sebagai pupuk, sehingga limbah dan biaya dapat ditekan. Sejak 1979 hingga pertengahan 1990-an, pemerintah Brasil juga telah menggelontorkan investasi sebesar US$ 25 miliar (nilai saat ini) untuk membangun industri etanol, sebelum akhirnya mengurangi subsidi. Hasilnya, Brasil mengandalkan tebu sebagai bahan baku utama yang memiliki kandungan energi lebih tinggi dibanding molase yang digunakan Indonesia.
Dari sisi infrastruktur, Brasil juga unggul melalui jaringan pipa etanol, sistem distribusi, serta SPBU flex-fuel yang tersebar secara nasional, sehingga biaya logistik lebih efisien dan akses energi lebih luas. Sementara itu, rantai pasok bioetanol di Indonesia masih terfragmentasi dan implementasi pencampuran baru terbatas pada uji coba seperti program E5 dan E10 oleh Pertamina di beberapa kota. Tanpa reformasi pada bahan baku, infrastruktur, serta insentif kebijakan jangka panjang, industri bioetanol nasional dinilai sulit mencapai daya saing biaya dengan Brasil maupun menyamai harga bensin.