Ketahanan energi Indonesia menghadapi tekanan serius akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik geopolitik antara Iran dan AS sejak akhir Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi dunia turut mengganggu distribusi dan mendorong kenaikan harga minyak. Data Investing mencatat, pada Senin (30/3) pukul 19.12 WIB, harga minyak Brent berjangka telah mencapai US$ 107,74 per barel.
Kondisi ini meningkatkan risiko krisis energi, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Untuk merespons tekanan tersebut, pemerintah mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Salah satu upaya yang tengah didorong adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selain tenaga surya, pengembangan EBT juga mencakup sumber lain seperti panas bumi (geothermal) dan tenaga air guna memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini juga sejalan dengan target net zero emission (NZE) yang ditetapkan dapat tercapai pada 2060 atau lebih cepat, melalui transisi dari energi fosil ke energi terbarukan dan nuklir, peningkatan efisiensi energi, serta penerapan teknologi penangkapan karbon.
Meski arah kebijakan sudah jelas, tantangan masih muncul dari sisi partisipasi publik. Riset Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam Indonesia Transition Energy Outlook 2026 yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat masih berada pada level menengah. Sebanyak 34% masyarakat memiliki pemahaman sedang dan mengikuti perkembangan isu transisi energi, sementara 26% tergolong memiliki pemahaman tinggi dan telah menerapkan pengetahuan tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
Di sisi lain, sebanyak 14% masyarakat masih memiliki pemahaman minim terhadap isu transisi energi, terdiri dari 12% yang hanya sedikit mengetahui dan 2% yang bahkan belum pernah mendengar tentang transisi energi. Untuk mempercepat peralihan menuju energi bersih, IESR merekomendasikan peningkatan keterlibatan publik dalam proyek-proyek EBT agar partisipasi masyarakat menjadi lebih luas dan berdampak nyata dalam mendukung transisi energi nasional.