Konflik geopolitik Iran dan Amerika Serikat mendorong terjadinya krisis energi global, seiring lonjakan harga minyak dunia yang telah mencapai US$ 100 per barel. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa tekanan global ini justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi nasional, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan dan energi.
Indonesia dinilai memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar untuk mendukung pengembangan energi alternatif. Berdasarkan data Kantor Staf Presiden, berbagai komoditas pertanian dapat diolah menjadi bahan bakar nabati, seperti kelapa sawit (CPO) untuk biodiesel maupun etanol. Selain itu, bahan baku lain seperti tebu, singkong, dan jagung juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.
Tidak hanya itu, potensi energi bersih Indonesia juga mencakup panas bumi serta tenaga air. Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya geotermal, hidro, dan mini hidro yang dapat dimaksimalkan. Di sisi lain, prospek ketahanan energi semakin kuat dengan adanya penemuan sumber gas baru di Andaman yang tengah dikembangkan oleh Mubadala dalam waktu singkat, serta rencana pembukaan ladang gas besar Masela dalam waktu dekat.
Dari sisi hilirisasi, Kementerian ESDM menyampaikan bahwa program ini menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Dari total 20 proyek hilirisasi tahap pertama, sebagian telah memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking), sementara sisanya akan dimulai bulan depan. Selain itu, terdapat tambahan 13 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai sekitar Rp 239 triliun.