Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus membayangi pasar tenaga kerja global sepanjang paruh pertama tahun 2026. Meskipun beberapa negara mencatat penurunan volume pemangkasan secara makro dibandingkan tahun lalu, adopsi masif kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi industri kini bergeser menjadi motor utama hilangnya ribuan lapangan pekerjaan di berbagai belahan dunia.
Melansir laporan CFO, jumlah pemangkasan hubungan kerja oleh pemberi kerja di Amerika Serikat (AS) sebenarnya merosot 40% pada semester pertama 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kendati demikian, fenomena ini tidak menandakan bahwa tahun ini menjadi masa yang tenang bagi para pekerja.
Sementara itu, laporan terbaru dari Challenger, Gray & Christmas mengungkapkan bahwa lonjakan angka kehilangan pekerjaan pada periode Januari-Juni 2025 yang mencapai 744.308 kasus merupakan sebuah anomali yang sebagian besar didorong oleh sektor pemerintahan. Faktanya, angka 443.604 pemotongan kerja yang tercatat pada semester pertama tahun ini tetap menjadi total paruh pertama tertinggi kedua sejak tahun 2020. Memasuki bulan Juni, jumlah PHK di AS menyusut 53% dibanding tahun lalu, sebuah tren penurunan yang dinilai wajar dan tipis khas bulan-bulan musim panas.
Kondisi di AS ini mencerminkan potret besar lanskap global yang terekam dalam data media monitoring DATASATU. Berdasarkan data tersebut, AS menyumbang porsi terbesar di mana restrukturisasi masif seputar adopsi AI, otomatisasi peran, dan pengalihan anggaran menjadi penyebab utamanya. Sektor teknologi di AS menjadi yang paling terpukul dengan 139.156 kasus PHK, disusul oleh sektor transportasi dan kesehatan.
Fenomena serupa terjadi di India, yang kini menempati peringkat kedua global. Tren PHK akibat AI di sektor teknologi India pada pertengahan 2026 bahkan telah menembus angka 128.000 kasus, melampaui total akumulasi sepanjang tahun 2025 yang berada di angka 125.000. Akselerasi penggunaan alat AI untuk memotong biaya operasional berimbas langsung pada berkurangnya permintaan peran tradisional, khususnya di sektor edukasi (EdTech) dan keuangan.
Di Asia Timur, raksasa ekonomi China menghadapi risiko pemindahan tenaga kerja yang tidak kalah masif. Laporan Reuters mengutip estimasi Citibank yang menunjukkan bahwa 9,6% dari total pekerjaan di China atau sekitar 70 juta posisi berada pada risiko tinggi untuk digantikan oleh sistem AI lokal seperti OpenClaw dan platform multi-agent Wukong milik Alibaba. Risiko ini bahkan melonjak hingga 13,6% bagi pekerja muda di usia 20-an. Sektor teknologi (Cloud & Big Data), pemasaran, serta industri hiburan seperti studio mikro drama kini menjadi lini yang paling terdampak oleh implementasi otomatisasi tersebut.
Beralih ke Asia Tenggara, pasar tenaga kerja Vietnam dan Thailand juga ikut didera restrukturisasi internal dan perlambatan ekonomi. Di Vietnam, otomatisasi berbasis AI yang menggantikan tugas-tugas rumit data analitik telah memicu penyusutan divisi hingga 30-50 %. Sektor perbankan setempat bahkan mencatat pemangkasan lebih dari 3.000 karyawan hanya pada kuartal pertama 2026. Fenomena di Vietnam juga memperlihatkan kerentanan pekerja senior, di mana kelompok Generasi X (usia di atas 40 tahun) mencatat tingkat PHK tertinggi mencapai 19% karena perusahaan cenderung mempertahankan pekerja muda yang berbiaya lebih murah.
Sementara itu, Thailand diproyeksikan masih harus bergulat dengan angka pemangkasan jaminan sosial yang tinggi, dengan estimasi minimal 40.000 pekerja terkena dampak PHK setiap bulannya, sepanjang tahun 2026. Selain faktor otomatisasi industri, ketidakpastian ekonomi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperparah kondisi sektor manufaktur dan produksi domestik mereka.