Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) membayangi sejumlah negara pada 2026 seiring meningkatnya tekanan ekonomi global, transformasi teknologi, dan gejolak geopolitik. Uni Eropa menghadapi risiko terbesar dengan potensi hilangnya hingga 1,3 juta lapangan kerja akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik AS–Iran. Sektor otomotif diperkirakan mencatat PHK terbesar dengan potensi kehilangan sekitar 600.000 pekerjaan, diikuti sektor konstruksi, logam, kimia, dan transportasi. Selain itu, puluhan ribu pekerjaan di industri baterai kendaraan listrik, manufaktur panel surya, dan baja juga terancam akibat kebijakan dekarbonisasi.
Di Asia, Singapura mulai merasakan tekanan di sektor teknologi dan e-commerce. Perusahaan e-commerce regional Lazada dikabarkan memangkas sekitar 5% tenaga kerjanya di Asia Tenggara, termasuk di Singapura, di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Sebelumnya, Amazon juga melakukan pengurangan tenaga kerja di negara tersebut pada Mei 2026, menandakan meningkatnya tren efisiensi di sektor digital.
Sementara itu, Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Pada Juni 2026, sektor manufaktur mencatat pengurangan tenaga kerja tercepat sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Kondisi ini dipicu oleh tingginya biaya produksi dan ketidakpastian prospek ekonomi. Di saat yang sama, adopsi kecerdasan buatan (AI) turut mempercepat restrukturisasi tenaga kerja. Pada Mei 2026, perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan lebih dari 97.000 PHK, dengan sekitar 40% di antaranya dikaitkan dengan implementasi teknologi AI.