Kondisi ketenagakerjaan di Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang setahun terakhir. Berdasarkan data terbaru dari BPS, jumlah penduduk bekerja pada Februari 2026 berhasil menembus angka 147,67 juta orang. Angka ini mencerminkan adanya pertumbuhan atau tambahan penyerapan bersih sebanyak 1,89 juta orang atau naik sekitar 1,30% jika dibandingkan dengan capaian pada Februari 2025 yang mencatat 145,77 juta orang.
Secara nasional, perbaikan indikator ketenagakerjaan ini didorong oleh jumlah angkatan kerja yang kini mencapai 154,91 juta orang. Sejalan dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja, BPS dalam laporan ‘Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia’ edisi Februari 2026 juga menyebut bahwa angka pengangguran berhasil ditekan menjadi 7,24 juta orang. Hal ini membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) melandai ke posisi 4,68%, lebih rendah daripada periode Februari tahun lalu. Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) kokoh di level 70,56%n.
Ditinjau dari sektor lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi motor penggerak utama dalam menampung tenaga kerja di tanah air. Sektor ini secara konsisten mempertahankan posisi teratas dengan menyerap sebanyak 42,49 juta pekerja. Jumlah tersebut berkontribusi sebesar 28,78% dari total seluruh penduduk yang bekerja di Indonesia, tumbuh sebesar 2,12% dibandingkan tahun sebelumnya. Posisi penyerap terbesar berikutnya diikuti oleh sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor industri pengolahan.
Berdasarkan laju pertumbuhannya, sektor jasa lainnya (kesenian, hiburan, rumah tangga, dsb) mencatatkan lonjakan pertumbuhan tertinggi sebesar 18,98%, dengan jumlah tenaga kerja yang naik dari 6,39 juta orang pada Februari 2025 menjadi 7,60 juta orang pada Februari 2026. Pertumbuhan signifikan juga terjadi pada sektor real estat yang melejit hingga 12,95%n, serta sektor aktivitas keuangan dan asuransi sebesar 4,94%. Sebaliknya, sektor perdagangan besar dan eceran justru mengalami kontraksi penyerapan terdalam yakni minus 5,58%, diikuti penurunan tipis pada sektor informasi dan komunikasi sebesar minus 0,88%.