Kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuka peluang perbaikan kondisi ekonomi global setelah sebelumnya dibayangi ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Meredanya tensi kedua negara diperkirakan memberikan dampak terhadap pergerakan mata uang, harga komoditas, hingga prospek ekonomi sejumlah negara termasuk Indonesia.
Menurut Analyst Doo Financial Futures, perdamaian Iran-AS akan memengaruhi pasar valuta asing global. Dolar Australia diperkirakan menjadi mata uang yang paling sensitif terhadap perkembangan tersebut. Sementara itu, ICDX menilai dolar AS berpotensi melemah seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven atau lindung nilai.
Sebaliknya, mata uang Euro diperkirakan menguat, sedangkan Franc Swiss (CHF) berpotensi semakin diminati sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang masih tersisa.
Dari sisi komoditas, Doo Financial Futures menilai harga minyak mentah dan batubara berpotensi terkoreksi setelah konflik mereda. Data Investing mencatat, per Rabu (17/6), harga minyak Brent berjangka berada di level US$ 79,10/barel, turun dari posisi US$ 100/barel pada Mei 2026. Meski demikian, harga emas dan bijih besi diperkirakan tetap bertahan pada level tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak berpotensi mengurangi beban subsidi energi sehingga memberikan ruang fiskal yang lebih longgar untuk mendukung program-program prioritas pemerintah. Laporan World Bank bertajuk "Indonesia Economic Prospect" edisi Juni 2026 mengungkapkan, defisit fiskal Indonesia diproyeksikan tetap berada di bawah 3% PDB dengan kredibilitas kebijakan domestik yang terjaga.
Selain itu, turunnya harga minyak dunia berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke kisaran 5,2%-5,4% pada 2026 dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali. Kondisi ini menunjukkan bahwa meredanya ketegangan geopolitik global dapat menjadi katalis positif bagi stabilitas ekonomi nasional maupun global.