Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksi tetap melambat pasca perdamaian Iran-AS. Laporan OECD menunjukkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini menjadi 2,8%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 3,4%.
OECD menilai perlambatan tersebut masih terjadi meskipun Iran dan Amerika Serikat telah menandatangani MoU perdamaian. Menurut OECD, ketidakpastian di Timur Tengah masih berlanjut dan dampak ekonomi dari konflik diperkirakan akan terasa dalam beberapa waktu ke depan mengingat proses pemulihan infrastruktur yang rusak serta perbaikan jalur transportasi yang menopang distribusi perdagangan dunia membutuhkan waktu berbulan-bulan.
OECD juga memproyeksikan perlambatan pertumbuhan pada sejumlah negara. PDB Amerika Serikat diperkirakan tumbuh 2%, sementara PDB Kanada diprediksi turun 1,2% pada 2026. Di Eropa, PDB Inggris diproyeksikan sebesar 0,9% pada 2026. Adapun untuk China, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat sebesar 4,5% pada 2026.
OECD mencatat bahwa kenaikan harga energi, keterbatasan pasokan, kondisi keuangan yang lebih ketat, serta melemahnya kepercayaan akan membebani aktivitas ekonomi global. Selain itu, inflasi diperkirakan meningkat sekitar 0,4 poin persentase (pp) pada 2026.
Di tengah perlambatan global tersebut, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%. Bank Indonesia menilai prospek tersebut didukung oleh upaya menjaga stabilitas serta penguatan kebijakan makroprudensial yang longgar dan kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi digital serta keuangan inklusif.
Di sisi lain, World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,2% hingga 5,4% pada 2026. Dalam laporan "Indonesia Economic Prospect" edisi Juni 2026, World Bank mengungkapkan bahwa penurunan harga minyak mentah dan komoditas energi setelah meredanya eskalasi konflik Iran-AS berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui berkurangnya beban subsidi energi. Kondisi tersebut dinilai dapat menciptakan ruang fiskal yang lebih longgar, sementara defisit fiskal Indonesia diproyeksikan tetap berada di bawah 3% PDB dengan kredibilitas kebijakan domestik yang terjaga.
Meski konflik telah mereda dan MoU perdamaian telah ditandatangani, IMF mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko terhadap perekonomian global. IMF menilai gangguan baru terhadap pasokan energi maupun infrastruktur di Timur Tengah dapat kembali menekan prospek pertumbuhan dunia. Selain itu, IMF memproyeksikan negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk akan mengalami revisi penurunan PDB pada 2026, bahkan sebagian di antaranya berpotensi mencatat kontraksi pertumbuhan ekonomi.