Pungutan Ekspor Sawit RI Diproyeksi Naik Sepanjang 2026

Senin, 16 Maret 2026 | 14:00 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.

Proyeksi Penerimaan Pungutan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia, 2026 (Rp triliun)

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, terutama apabila terjadi gangguan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut dilalui sebagian besar perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan dapat memicu gejolak harga energi serta memengaruhi perdagangan komoditas internasional.

Di tengah ketidakpastian geopolitik tersebut, Kementerian Keuangan memperkirakan penerimaan dari pungutan ekspor kelapa sawit akan meningkat sepanjang 2026. Proyeksi menunjukkan penerimaan pada April 2026 diperkirakan sebesar Rp 2,04 triliun, sebelum meningkat tajam pada pertengahan tahun. Pada Juni 2026, penerimaan diperkirakan melonjak 2 kali lipat dari April menjadi Rp 4,87 triliun dan diproyeksi mencapai puncaknya pada Desember 2026 sebesar Rp 5,12 triliun.

Peningkatan penerimaan tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif pungutan ekspor sawit sejak 2 Maret 2026. Kebijakan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9 Tahun 2026 yang merevisi PMK Nomor 69 Tahun 2025 mengenai tarif layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BLU BPDP).

Dalam aturan terbaru, tarif pungutan ekspor crude palm oil (CPO) ditetapkan sebesar 12,5% dari harga referensi, lebih tinggi dibandingkan tarif sebelumnya yang sebesar 10%. Penyesuaian juga berlaku pada sejumlah produk turunan seperti crude palm olein dan crude palm stearin yang tarifnya naik menjadi 12%, serta refined bleached and deodorized (RBD) palm olein yang meningkat menjadi 10%. Sementara itu, beberapa komoditas dengan tarif tetap juga mengalami kenaikan, seperti bungkil inti sawit dari US$ 25 menjadi US$ 30 per metrik ton serta cangkang kernel sawit dari US$ 3 menjadi US$ 5 per metrik ton.

Data Terkait

konflik-timur-tengah-memanas-harga-minyak-dunia-tembus-us100-per-barel
Ekonomi

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel

Hingga Selasa (15/9) pukul 13.49 WIB, harga WTI mencapai US$103,28 per barel, atau melonjak 80,18% secara year-to-date (ytd). Sementara itu, harga Brent mencapai US$107,29 per barel, atau naik 76,56% secara ytd pada periode yang sama.

15 Sep 2026

eskalasi-terkini-konflik-timur-tengah
Internasional

Eskalasi Terkini Konflik Timur Tengah

Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di kawasan Timur Tengah sejak akhir Agustus 2026.

3 Sep 2026

konflik-as-dan-iran-memanas-di-selat-hormuz
Internasional

Konflik AS dan Iran Memanas di Selat Hormuz

Eskalasi militer antara AS dan Iran kembali memuncak setelah kedua belah pihak saling meluncurkan serangan udara pada akhir pekan, 27–28 Juni 2026.

30 Jun 2026

perdamaian-iran-as-buka-peluang-surplus-minyak-meski-risiko-mengintai
Ekonomi

Perdamaian Iran-AS Buka Peluang Surplus Minyak, Meski Risiko Mengintai

Kesepakatan damai Iran dan AS mendorong harga minyak dunia turun. IEA memperkirakan pasokan minyak global naik 7,71% pada 2027 meski risiko gangguan energi masih membayangi.

18 Jun 2026

perdamaian-iran-as-berpeluangi-longgarkan-tekanan-ekonomi-global
Ekonomi

Perdamaian Iran-AS Berpeluangi Longgarkan Tekanan Ekonomi Global

Kesepakatan damai Iran-AS berpotensi menurunkan harga minyak dunia, mengurangi tekanan fiskal Indonesia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 5,4% pada 2026.

17 Jun 2026

harga-icp-melambung-6544-sepanjang-2026-ikuti-lonjakan-minyak-dunia
Ekonomi

Harga ICP Melambung 65,44% Sepanjang 2026, Ikuti Lonjakan Minyak Dunia

Harga minyak mentah dunia dan ICP melonjak sepanjang 2026. Harga ICP Mei 2026 mencapai US$ 106,56 per barel atau naik 65,44% dibanding awal tahun.

12 Jun 2026