Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara elektronik untuk mengakhiri perang. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah langsung direspons pasar energi global dengan penurunan harga minyak mentah berjangka setelah sebelumnya sempat melonjak akibat konflik yang berkepanjangan.
Melansir data Investing pada Kamis (18/6), harga minyak mentah berjangka WTI turun menjadi US$ 75,19/barel. Sementara itu, harga minyak berjangka Brent juga terkoreksi ke level US$ 78,09/barel. Padahal sebelumnya harga minyak dunia sempat menembus US$ 100/barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan AS. Penurunan harga minyak ini juga berpotensi menekan harga batu bara karena berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Menurut laporan IEA, penyelesaian konflik Iran-AS secara permanen berpeluang meningkatkan pasokan minyak dunia secara signifikan dan menciptakan surplus pasokan pada 2027. IEA memperkirakan pasokan minyak global dapat meningkat 7,71%, dari 102,4 juta barel per hari (bph) pada 2026 menjadi 110,3 juta bph pada 2027. Bertambahnya pasokan tersebut diperkirakan membantu menjaga stabilitas harga energi sekaligus mengurangi tekanan inflasi di berbagai negara.
Meski demikian, IMF mengingatkan bahwa proses normalisasi pasar energi tidak akan berlangsung secara instan. Gangguan rantai pasok dan kerusakan infrastruktur energi akibat perang masih membutuhkan waktu untuk dipulihkan. IMF menilai negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan ruang fiskal yang terbatas masih menghadapi risiko besar.
Ethiopia, Malawi, dan Zambia disebut berpotensi mengalami kelangkaan BBM. Sementara harga energi yang masih tinggi juga meningkatkan risiko ekonomi di Lesotho, Rwanda, dan Tanzania. Dengan demikian, meski perdamaian Iran-AS membuka peluang bagi stabilisasi pasar energi global, proses pemulihan pasokan dan distribusi energi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati ke depan.