Surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 kian menipis.Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang Indonesia pada April 2026 hanya mencapai US$ 89,1 juta. Nilai tersebut turun tajam dibandingkan Maret 2026 yang masih mencatatkan surplus sebesar US$ 3,33 miliar. Menipisnya surplus menunjukkan tekanan yang semakin besar dari sisi impor meskipun kinerja ekspor masih tumbuh positif.
BPS mengungkapkan, nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,21 miliar, hampir menyamai nilai ekspor yang sebesar US$ 25,3 miliar. Kenaikan impor didorong oleh meningkatnya kebutuhan barang konsumsi serta bahan baku industri. Secara tahunan, nilai impor Indonesia melonjak 22,49% yoy, mencerminkan tingginya permintaan domestik dan kebutuhan produksi sektor industri.
Dari sisi komoditas, impor migas menjadi kontributor utama kenaikan impor. BPS mencatat impor migas melonjak hingga 82,52% yoy menjadi US$ 4,60 miliar pada April 2026. Lonjakan tersebut mempersempit ruang surplus perdagangan Indonesia, meskipun ekspor masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat.
Di sisi lain, surplus perdagangan tetap ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$ 24,15 miliar atau naik 23,36% yoy. Berdasarkan sektor usahanya, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas dengan nilai mencapai US$ 20,59 miliar atau meningkat 29,07% yoy.
Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya mencatatkan ekspor sebesar US$ 3,11 miliar, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$ 0,45 miliar. Kinerja ekspor manufaktur yang solid menjadi penopang utama perdagangan Indonesia di tengah meningkatnya tekanan dari sisi impor.