Indonesia masih bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Data Kementerian Perdagangan mencatat, impor migas, khususnya bahan bakar mineral dari Arab Saudi mencapai US$ 2,58 miliar pada 2025 atau setara 70,87% dari total impor Indonesia dari negara tersebut. Meski menjadi yang terbesar di kawasan, nilai ini tercatat turun 20,69% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar masuk dalam tiga besar pemasok bahan bakar mineral ke Indonesia. Sepanjang 2025, impor migas dari UEA tercatat US$ 995,70 juta dengan pangsa 41,30%. Sementara dari Qatar impor migas mencapai US$ 776,10 juta atau berkontribusi 61,79% terhadap total impor dari negara itu.
Selain negara tersebut, negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Bahrain juga menyumbang impor migas jumbo. Adapun Iran relatif kecil, dengan angka impor migas di 2025 hanya US$ 0,50 juta, meski tetap tumbuh 13,65% dibanding tahun sebelumnya.
Ketergantungan yang tinggi terhadap energi kawasan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik. Konflik Israel-Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 berpotensi mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dan gas dunia. Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden AS ke-41, mengingatkan bahwa penutupan jalur ini dalam waktu lama dapat memicu perlambatan ekonomi global akibat terganggunya arus migas dan perdagangan internasional.