Nilai impor Indonesia pada April 2026 melonjak signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai US$ 25,21 miliar atau meningkat 22,49% yoy.
Kenaikan impor tersebut berdampak signifikan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Surplus dagang yang pada Maret 2026 masih mencapai US$ 3,33 miliar menyusut tajam menjadi hanya US$ 89,1 juta pada April 2026.
Meski demikian, Indonesia masih berhasil mempertahankan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. BPS mencatat, capaian tersebut menjadi surplus dagang terkecil sejak Mei 2020.
Dari sisi komoditas, lonjakan impor terutama berasal dari sektor migas. BPS melaporkan impor migas meningkat 82,52% yoy menjadi US$ 4,60 miliar. Kenaikan terbesar berasal dari impor hasil minyak yang mencapai US$ 3,51 miliar atau melonjak 87,76% yoy. Sementara itu, impor minyak mentah juga meningkat signifikan sebesar 67,49% yoy menjadi US$ 1,09 miliar.
Meningkatnya impor energi tersebut tidak terlepas dari kondisi geopolitik global yang masih memicu tekanan pada harga minyak dunia. Selain itu, kebutuhan energi domestik yang tinggi turut mendorong peningkatan pembelian minyak mentah dan produk olahan minyak dari berbagai negara mitra dagang Indonesia.
BPS mencatat sumber utama impor minyak mentah Indonesia berasal dari Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan. Sementara itu, peningkatan impor hasil minyak terutama berasal dari Malaysia, Singapura, dan Rusia.
Tingginya impor energi menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri masih cukup besar, sehingga fluktuasi harga energi global dapat berdampak langsung terhadap kinerja perdagangan nasional.