Indonesia masih mencatatkan defisit neraca perdagangan dengan sejumlah negara di Timur Tengah. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, defisit dengan Arab Saudi mencapai US$ 0,77 miliar yang dipicu oleh impor senilai US$ 3,65 miliar. Selain Arab Saudi, posisi perdagangan Indonesia juga defisit terhadap Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Tingginya impor, khususnya komoditas energi, menjadi faktor utama pelebaran defisit tersebut. Impor bahan bakar minyak dan gas (migas) dari Arab Saudi mencapai 68,3% dari total impor Indonesia di negara tersebut. Ketergantungan serupa juga terlihat pada Qatar dan Bahrain, dengan porsi impor migas masing-masing sebesar 71,77% dan 75,60% terhadap total pembelian dari kedua negara itu.
Situasi ini membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik kawasan. Konflik antara Israel dan Iran yang memanas sejak 28 Februari 2026 berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah, termasuk bahan bakar mineral yang masih menjadi kebutuhan utama domestik.
Di sisi lain, tidak semua hubungan dagang Indonesia di kawasan tersebut berakhir defisit. Indonesia masih mencatat surplus perdagangan terhadap Iran dan Uni Emirat Arab (UEA). Surplus dengan UEA mencapai US$ 1,62 miliar, ditopang ekspor sebesar US$ 4,03 miliar, sementara dengan Iran surplus sebesar US$ 0,24 miliar pada 2025.