Sejumlah negara ASEAN menunjukkan tingkat kerentanan yang berbeda dalam menghadapi gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu tekanan pada sektor energi global. Per Senin (4/5) pukul 20.00 WIB, harga minyak Brent berjangka telah mencapai US$ 110,64 per barel naik 2,26% secara harian. Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan tekanan bagi negara-negara yang masih bergantung tinggi terhadap impor minyak dan gas bumi (migas).
Melansir data East Asia & Pacific Economic Update (EAP), Laos, Thailand, dan Kamboja menjadi negara ASEAN dengan tingkat kerentanan tertinggi akibat tingginya kontribusi impor migas terhadap produk domestik bruto (PDB). Laos mencatatkan impor migas sebesar 8% terhadap PDB pada 2024. Sementara Thailand dan Kamboja masing-masing mencatatkan kontribusi impor migas sebesar 7% dan 6% terhadap PDB.
Tingginya ketergantungan akan minyak membuat negara-negara tersebut menghadapi tekanan lebih besar karena kenaikan harga energi mampu menekan daya beli rumah tangga dan meningkatkan biaya input industri. Di sisi lain, Indonesia masih berada di zona oranye dengan kontribusi impor migas sebesar 1% terhadap PDB, sehingga relatif lebih aman dibanding beberapa negara ASEAN lainnya.
Selain ketergantungan impor energi, sejumlah negara juga menghadapi tekanan dari tingginya kebutuhan pembiayaan eksternal. Data EAP menunjukkan, Malaysia dan Timor Leste mencatatkan kebutuhan pembiayaan eksternal masing-masing sebesar 42% dan 48%. Khusus Malaysia, tingginya kebutuhan pembiayaan eksternal dipengaruhi oleh besarnya utang swasta jangka pendek seperti kredit perdagangan dan aliran dana sektor perbankan.
Meski menghadapi tekanan geopolitik global, sebagian negara ASEAN masih memiliki cadangan energi yang relatif aman. Sekitar 50% negara di kawasan mencatatkan cadangan energi yang mampu memenuhi kebutuhan impor lebih dari 5 bulan, termasuk Indonesia yang mencapai 6,2 bulan impor. Namun, Laos dan Vietnam perlu meningkatkan kewaspadaan sebab cadangan energi kedua negara tersebut hanya sebesar 2,6 bulan impor.
Kerentanan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi ASEAN masih menghadapi tantangan besar akibat tingginya ketergantungan impor migas dan tekanan pembiayaan eksternal. Jika konflik geopolitik terus berlanjut, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, melemahkan daya beli masyarakat, serta menekan pertumbuhan ekonomi kawasan ke depan.