Eskalasi militer di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, telah mengubah peta risiko pasar keuangan global. Namun, respons pasar modal dalam periode 2 Maret hingga 2 Juni 2026 menunjukkan anomali yang menarik. Alih-alih kompak bertumbangan, bursa saham global justru menunjukkan kinerja yang sangat beragam dengan mayoritas indeks utama bergerak tangguh di zona hijau.
Zona Asia Timur memimpin penguatan global. KOSPI Korea Selatan mencetak lonjakan tertinggi sebesar 40,96%, dari level 6.244,13 pada 2 Maret 2026 ke level 8.801,49 pada 2 Juni 2026, disusul oleh Nikkei 225 Jepang yang melesat 14,72%. Di sisi lain, bursa Barat dan regional seperti DJIA Amerika Serikat (+4,45%), STI Singapura (+4,22%), dan DAX Jerman (+2,48%) juga berhasil membukukan performa positif di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sangat kontras dengan tren penguatan global, IHSG Indonesia justru menjadi indeks dengan kinerja terburuk di dunia. Dalam kurun waktu tiga bulan, IHSG mengalami koreksi terdalam, yakni mencapai 22,72%, terjun bebas dari level psikologis 8.016,83 menuju 6.195,43.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang relatif lebih besar dibandingkan mayoritas bursa global sejak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.