Sepanjang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah hingga 14,28%. Melansir data Investing, pada awal pemerintahan Prabowo tepatnya 21 Oktober 2024, kurs rupiah berada di level Rp 15.490 per dolar AS. Namun hingga Kamis (22/5), rupiah terdepresiasi menjadi Rp 17.687 per dolar AS. Sepanjang Januari hingga 22 Mei 2026 saja, rupiah telah melemah sebesar 6,16%.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak dunia, kenaikan suku bunga AS, hingga penguatan dolar AS yang memicu arus keluar modal asing dari negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.
Selain itu, permintaan dolar AS di dalam negeri meningkat sepanjang April-Mei 2026 akibat repatriasi dividen korporasi, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan jemaah haji dan umrah. Kondisi tersebut membuat rupiah tetap tertekan meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% yoy dengan inflasi yang relatif terkendali.
Sejalan dengan pelemahan rupiah, pasar saham Indonesia juga mengalami tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 20,72% selama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pada 21 Oktober 2024, IHSG berada di level 7.772,60 dan sempat menembus level 8.000 pada September 2025. Bahkan, IHSG mencapai rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Namun, pada 28 Januari 2026 IHSG mengalami trading halt setelah anjlok 8% ke level 8.261 menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang membekukan sementara perhitungan sejumlah indeks terkait saham Indonesia.
MSCI menyampaikan kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham dan kelayakan investasi di pasar sekuritas Indonesia. Pada 21 April 2026, MSCI kembali mengumumkan pembekuan seluruh peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menambahkan indeks baru dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
MSCI juga akan menghapus saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dan menyesuaikan estimasi free float berdasarkan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%.
Selain sentimen MSCI, tekanan IHSG juga dipicu capital outflow asing yang mencapai Rp 49,87 triliun hingga April 2026 akibat aksi net sell pada saham blue chip. Di sisi lain, sentimen pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia turut memengaruhi pasar. Pada Kamis (21/5), IHSG ditutup merosot 3,54% ke level 6.094,94 sebelum akhirnya rebound 1,10% menjadi 6.162,04 pada penutupan Jumat, (22/5).