Pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang 2026 diwarnai volatilitas tinggi yang dipengaruhi oleh kebijakan MSCI terhadap pasar modal Indonesia serta berbagai sentimen domestik. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatat level tertinggi sepanjang masa (all time high) pada penutupan 20 Januari 2026 dengan mencapai 9.134,70.
Tekanan besar mulai terjadi pada 28 Januari 2026 setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara dan perhitungan sejumlah indeks saham Indonesia. Langkah tersebut diambil MSCI sebagai respons atas kekhawatiran investor global terkait transparansi data kepemilikan saham dan kelayakan investasi di pasar sekuritas Indonesia.
MSCI juga memperingatkan adanya risiko pengurangan bobot Indonesia dalam indeks negara berkembang serta kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Markets menjadi Frontier Markets apabila tidak terdapat perkembangan hingga periode review berikutnya pada Mei 2026.
Pada hari yang sama, perdagangan saham sempat dihentikan sementara (trading halt) untuk membatasi penurunan yang lebih dalam. Adapun data Investing mencatat, IHSG ditutup turun 7,35% ke level 8.320,56 setelah sempat anjlok 7,8% pada perdagangan 28 Januari 2026.
Pelemahan berlanjut pada 29 Januari 2026 ketika IHSG kembali tertekan dan sempat menyentuh penurunan hingga 8% di tengah aksi jual investor terhadap saham-saham Indonesia. Bursa Efek Indonesia kembali memberlakukan trading halt dan IHSG ditutup pada level 8.232,2.
Selanjutnya, pada 2 Februari 2026, IHSG ditutup melemah 4,88% ke posisi 7.922,73 setelah sempat turun 5,07% pada sesi pertama perdagangan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan rebalancing portofolio investor serta sikap wait and see pasar menyusul mundurnya sejumlah pejabat OJK, termasuk Ketua OJK sebelumnya, Mahendra Siregar.
Selain faktor MSCI, pergerakan IHSG juga dipengaruhi kondisi makroekonomi domestik. Pada 21 Mei 2026, IHSG turun 3,54% sebagai respons terhadap pembentukan badan ekspor khusus sumber daya alam, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI). Sentimen lain seperti penguatan dolar AS dan keluarnya dana asing turut membebani pasar. Kemudian pada 5 Juni 2026, IHSG kembali terkoreksi 4,20% seiring pelemahan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan transaksi berjalan.
Sementara itu, pada Senin (22/6), IHSG ditutup melemah 0,98% ke level 6.116,69 setelah sempat terkoreksi 1,25% pada sesi I perdagangan. Pelemahan tersebut terjadi di tengah sikap wait and see investor menjelang pengumuman Annual Market Classification Review MSCI pada 24 Juni mendatang. Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menilai isu Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) juga menambah ketidakpastian di pasar.