Gejolak IHSG Sepanjang 2026, Tertekan Sentimen MSCI dan Faktor Domestik

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:00 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Gejolak IHSG Sepanjang 2026, Tertekan Sentimen MSCI dan Faktor Domestik
Fluktuasi IHSG Pasca Review MSCI Sepanjang 2026

Pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang 2026 diwarnai volatilitas tinggi yang dipengaruhi oleh kebijakan MSCI terhadap pasar modal Indonesia serta berbagai sentimen domestik. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatat level tertinggi sepanjang masa (all time high) pada penutupan 20 Januari 2026 dengan mencapai 9.134,70.

Tekanan besar mulai terjadi pada 28 Januari 2026 setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara dan perhitungan sejumlah indeks saham Indonesia. Langkah tersebut diambil MSCI sebagai respons atas kekhawatiran investor global terkait transparansi data kepemilikan saham dan kelayakan investasi di pasar sekuritas Indonesia. 

MSCI juga memperingatkan adanya risiko pengurangan bobot Indonesia dalam indeks negara berkembang serta kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Markets menjadi Frontier Markets apabila tidak terdapat perkembangan hingga periode review berikutnya pada Mei 2026. 

Pada hari yang sama, perdagangan saham sempat dihentikan sementara (trading halt) untuk membatasi penurunan yang lebih dalam. Adapun data Investing mencatat, IHSG ditutup turun 7,35% ke level 8.320,56 setelah sempat anjlok 7,8% pada perdagangan 28 Januari 2026.

Fluktuasi IHSG Pasca Review MSCI Sepanjang 2026 - (BEI & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)
Fluktuasi IHSG Pasca Review MSCI Sepanjang 2026 - (BEI & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)

Pelemahan berlanjut pada 29 Januari 2026 ketika IHSG kembali tertekan dan sempat menyentuh penurunan hingga 8% di tengah aksi jual investor terhadap saham-saham Indonesia. Bursa Efek Indonesia kembali memberlakukan trading halt dan IHSG ditutup pada level 8.232,2. 

Selanjutnya, pada 2 Februari 2026, IHSG ditutup melemah 4,88% ke posisi 7.922,73 setelah sempat turun 5,07% pada sesi pertama perdagangan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan rebalancing portofolio investor serta sikap wait and see pasar menyusul mundurnya sejumlah pejabat OJK, termasuk Ketua OJK sebelumnya, Mahendra Siregar.

Selain faktor MSCI, pergerakan IHSG juga dipengaruhi kondisi makroekonomi domestik. Pada 21 Mei 2026, IHSG turun 3,54% sebagai respons terhadap pembentukan badan ekspor khusus sumber daya alam, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI). Sentimen lain seperti penguatan dolar AS dan keluarnya dana asing turut membebani pasar. Kemudian pada 5 Juni 2026, IHSG kembali terkoreksi 4,20% seiring pelemahan nilai tukar rupiah serta kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan transaksi berjalan. 

Sementara itu, pada Senin (22/6), IHSG ditutup melemah 0,98% ke level 6.116,69 setelah sempat terkoreksi 1,25% pada sesi I perdagangan. Pelemahan tersebut terjadi di tengah sikap wait and see investor menjelang pengumuman Annual Market Classification Review MSCI pada 24 Juni mendatang. Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menilai isu Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) juga menambah ketidakpastian di pasar.

Data Terkait

net-sell-asing-tembus-rp-117-t-pasca-msci-merilis-review-juni-2026
Ekonomi

Net Sell Asing Tembus Rp 1,17 T Pasca MSCI Merilis Review Juni 2026

IHSG ke level 5.800 pada 24 Juni 2026 diikuti dengan net sell investor asing hingga Rp 1,17 triliun setelah MSCI memberi peringatan soal status pasar modal RI.

5 hari yang lalu

saham-berbobot-besar-di-msci-tertekan-usai-pengumuman-review-juni-2026
Ekonomi

Saham Berbobot Besar di MSCI Tertekan Usai Pengumuman Review Juni 2026

Peringatan MSCI terkait potensi penurunan status Indonesia ke Frontier Market memicu koreksi IHSG ke 5.883,88 dan menekan sejumlah saham berbobot besar di MSCI.

6 hari yang lalu

status-emerging-market-tetap-bertahan-msci-soroti-akses-pasar-ri
Ekonomi

Status Emerging Market Tetap Bertahan, MSCI Soroti Akses Pasar RI

Akses pasar RI masih solid di emerging market, meski sejumlah aspek aksesibilitas dinilai melemah, termasuk transparansi hingga fleksibilitas investor asing.

22 Jun 2026

hasil-review-msci-2026-skor-transparansi-saham-indonesia-dan-turki-turun
Ekonomi

Hasil Review MSCI 2026: Skor Transparansi Saham Indonesia dan Turki Turun

MSCI baru saja merilis hasil Global Market Accessibility Review 2026 pada Kamis, 18 Juni 2026 waktu setempat. Hasil tinjauan terhadap kelompok pasar berkembang (Emerging Markets) tersebut menunjukkan bahwa sejumlah negara berhasil melakukan reformasi struktural yang signifikan. Sebaliknya, Indonesia dan Turki justru harus menghadapi penurunan penilaian akibat isu transparansi.

22 Jun 2026

bobot-susut-ke-050-indonesia-masih-bertahan-di-msci-emerging-markets
Ekonomi

Bobot Susut ke 0,50%, Indonesia Masih Bertahan di MSCI Emerging Markets

Pelaku pasar menanti hasil tinjauan MSCI pada 18 Juni 2026 setelah bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets turun menjadi 0,50% dan memicu arus keluar dana asing.

18 Jun 2026

net-sell-asing-membayangi-bursa-asean-indonesia-catat-outflow-jumbo
Ekonomi

Net Sell Asing Membayangi Bursa ASEAN, Indonesia Catat Outflow Jumbo

Aksi jual investor asing masih membayangi pasar saham ASEAN. Indonesia mencatat net sell asing sebesar US$ 1,95 miliar pada kuartal I-2026, tertinggi di kawasan.

6 Jun 2026