Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan terdalam di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Melansir data Investing, hingga penutupan Jumat (22/5), IHSG berada di level 6.162,04 atau turun 20,72% dibanding posisi awal pemerintahan pada 21 Oktober 2024 yang mencapai 7.772,60.
Padahal, di era kepemimpinan Presiden Prabowo, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026. Namun, tekanan terhadap IHSG terjadi seiring keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang membekukan sementara perhitungan sejumlah indeks terkait saham Indonesia.
Selain sentimen MSCI, pasar saham domestik juga dipengaruhi capital outflow asing yang mencapai Rp 49,87 triliun hingga April 2026 akibat aksi net sell pada saham blue chip. Pelemahan rupiah, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta sentimen pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia sebagai eksportir tunggal turut memperbesar tekanan terhadap IHSG.
Pelemahan IHSG juga pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Selama menjabat sejak 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001, IHSG tercatat turun 19,54%. Penurunan tersebut berlangsung di tengah tantangan ekonomi, di mana PDB menurun dari 4,92% pada 2000 menjadi 3,64% pada 2001. Selain itu, investasi asing juga anjlok hingga 70% sepanjang 1999-2001.
Di sisi lain, performa IHSG terbaik terjadi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Data Investing mencatat, selama 10 tahun pemerintahannya, IHSG melonjak 499,50% dari level 840,79 menjadi 5.040,53 yang didorong commodity boom terutama sektor energi dan agribisnis.
Penguatan pasar saham juga terjadi pada era Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo dengan kenaikan masing-masing sebesar 78,80% dan 54,2%. Pada masa Presiden Joko Widodo, sektor perbankan menjadi motor penggerak IHSG seiring fokus pemerintah terhadap inklusi keuangan dan transformasi digital.
Meski dibayangi ketidakpastian global, perubahan kebijakan ekonomi berbasis pembangunan infrastruktur jangka panjang, serta pandemi Covid-19, IHSG tetap mampu tumbuh positif. Sementara itu, pada era Presiden B. J. Habibie, IHSG juga meningkat 31,29% dari 444,14 menjadi 584,42 pada akhir masa pemerintahannya.