Kurs rupiah di pasar offshore atau luar negeri terus mengalami tekanan dalam sebulan terakhir. Melansir data Trading Economics, pada Kamis (28/5) pukul 18.20 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 17.852 per dolar AS. Bahkan, sepanjang 2026, rupiah di pasar offshore telah melemah hingga 7,06%.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pelemahan rupiah dipicu tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri. Permintaan tersebut berasal dari repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan devisa untuk musim haji yang meningkatkan permintaan valuta asing.
Selain faktor domestik, Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi menilai konflik geopolitik di Timur Tengah turut mendorong investor global memburu dolar AS sebagai aset aman atau safe haven.
Kondisi tersebut menyebabkan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang berdampak pada pelemahan rupiah sepanjang 2026. Ia juga menyoroti kekhawatiran investor global terhadap kredibilitas fiskal serta arah kebijakan pemerintah yang memperbesar tekanan terhadap mata uang domestik.
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas mengungkapkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi external imbalance domestik yang semakin melebar. Kondisi tersebut diperberat oleh melemahnya permintaan ekspor dari mitra dagang utama Indonesia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.