Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000. Melansir data Investing pada 5 Juni 2026 pukul 16.58 WIB, kurs rupiah berada di level Rp 18.056 per US$. Dalam satu tahun terakhir, mata uang rupiah telah terdepresiasi sebesar 10,94% yoy.
Meski demikian, pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Data Investing menunjukkan sejumlah mata uang Asia juga mengalami koreksi terhadap dolar AS. Won Korea Selatan mencatatkan depresiasi terdalam sebesar 13,44% yoy, dari 1.355,54 won/US$ menjadi 1.537,74 won/US$ pada 5 Juni 2026. Sementara itu, yen Jepang melemah 11,42% yoy hingga mencapai 159,95 yen/US$.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru mampu menguat terhadap dolar AS. Menurut data Investing, dolar Singapura terapresiasi tipis 0,21% yoy menjadi S$ 1,28 per US$. Ringgit Malaysia juga menguat 4,73% yoy menjadi RM 4,03 per US$, sedangkan yuan China naik 5,69% yoy menjadi 6,77 yuan/US$.
Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Asia dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik di masing-masing negara. Meskipun rupiah telah melemah hingga 10,94% yoy dan menembus Rp 18.056 per US$, koreksinya masih lebih rendah dibandingkan won Korea Selatan dan yen Jepang.
Sementara itu, penguatan mata uang seperti yuan China, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura menunjukkan adanya perbedaan daya tahan ekonomi serta respons kebijakan di kawasan Asia dalam menghadapi penguatan dolar AS.