Pemerintah terus mendorong penggunaan kompor listrik sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Percepatan elektrifikasi rumah tangga melalui kompor induksi tidak hanya berdampak pada pengurangan impor energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan energi di tingkat rumah tangga.
Dari sisi efisiensi, penggunaan kompor listrik dinilai mampu mengurangi beban subsidi energi pemerintah. Melansir data DPR RI, efisiensi energi yang dihasilkan bahkan diperkirakan dapat menghemat hingga 30% dibandingkan penggunaan LPG bersubsidi. Hal ini menjadikan kompor listrik sebagai salah satu solusi dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mengoptimalkan pengeluaran negara.
Namun demikian, tingkat adopsi kompor listrik di Indonesia masih tergolong sangat rendah. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), penggunaan kompor listrik oleh rumah tangga baru mencapai 0,43% pada 2025 atau masih di bawah 1% secara nasional. Meski demikian, terdapat sejumlah daerah yang mencatatkan angka penggunaan lebih tinggi dari rata-rata nasional.
BPS mencatat Papua Barat menjadi provinsi dengan tingkat penggunaan kompor listrik tertinggi, yakni sebesar 4,03%. Capaian ini didorong oleh upaya sosialisasi yang dilakukan berbagai pihak, termasuk PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Manokwari. Kegiatan edukasi dilakukan melalui UMKM Food Festival di Manokwari City Mall (MCM), di mana pelaku UMKM diberikan pengalaman langsung menggunakan kompor listrik.
Selain Papua Barat, DI Yogyakarta dan Bali juga mencatatkan penggunaan masing-masing sebesar 1,83% dan 0,86%. Sementara itu, Riau dan Kepulauan Riau mencatatkan angka di atas 0,70%.