Indonesia masih sangat bergantung pada LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, penggunaan LPG mendominasi dengan persentase sebesar 89,71% rumah tangga. Sementara itu, penggunaan kayu bakar dan minyak tanah masing-masing tercatat sebesar 6,83% dan 2,63%, menunjukkan masih terbatasnya diversifikasi energi di sektor rumah tangga.
Tingginya penggunaan LPG berdampak pada besarnya kebutuhan nasional yang masih bergantung pada impor. Data DPR RI mencatat konsumsi LPG Indonesia mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dengan sebagian besar pasokan berasal dari luar negeri. Kondisi ini menjadi beban bagi anggaran negara sekaligus menghambat kemandirian energi nasional.
Untuk mengatasi hal tersebut, elektrifikasi rumah tangga melalui penggunaan kompor listrik atau kompor induksi mulai didorong sebagai solusi strategis. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyatakan bahwa langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi subsidi energi dan tekanan terhadap neraca perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi kedaulatan energi nasional yang dimulai dari sektor rumah tangga.
Namun demikian, implementasi kebijakan ini masih menghadapi tantangan besar. Penggunaan kompor listrik di Indonesia masih sangat rendah, bahkan berada di bawah 1%. BPS mencatat, pada 2025, hanya sebesar 0,43% rumah tangga yang menggunakan kompor listrik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang kuat serta sosialisasi yang masif agar transisi energi ini dapat berjalan efektif dan diterima oleh masyarakat luas.