Kompor Listrik Dinilai Mampu Atasi Impor LPG, Tapi Adopsi Masih Minim

Senin, 20 April 2026 | 15:14 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Kompor Listrik Dinilai Mampu Atasi Impor LPG, Tapi Adopsi Masih Minim
Penggunaan Bahan Bakar Untuk Memasak, 2025

Indonesia masih sangat bergantung pada LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, penggunaan LPG mendominasi dengan persentase sebesar 89,71% rumah tangga. Sementara itu, penggunaan kayu bakar dan minyak tanah masing-masing tercatat sebesar 6,83% dan 2,63%, menunjukkan masih terbatasnya diversifikasi energi di sektor rumah tangga.

Penggunaan Bahan Bakar Untuk Memasak, 2025 - (BPS/Melati Kristina/Diproduksi Gemini AI)
Penggunaan Bahan Bakar Untuk Memasak, 2025 - (BPS/Melati Kristina/Diproduksi Gemini AI)

Tingginya penggunaan LPG berdampak pada besarnya kebutuhan nasional yang masih bergantung pada impor. Data DPR RI mencatat konsumsi LPG Indonesia mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dengan sebagian besar pasokan berasal dari luar negeri. Kondisi ini menjadi beban bagi anggaran negara sekaligus menghambat kemandirian energi nasional.

Untuk mengatasi hal tersebut, elektrifikasi rumah tangga melalui penggunaan kompor listrik atau kompor induksi mulai didorong sebagai solusi strategis. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyatakan bahwa langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi subsidi energi dan tekanan terhadap neraca perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi kedaulatan energi nasional yang dimulai dari sektor rumah tangga.

Namun demikian, implementasi kebijakan ini masih menghadapi tantangan besar. Penggunaan kompor listrik di Indonesia masih sangat rendah, bahkan berada di bawah 1%. BPS mencatat, pada 2025, hanya sebesar 0,43% rumah tangga yang menggunakan kompor listrik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang kuat serta sosialisasi yang masif agar transisi energi ini dapat berjalan efektif dan diterima oleh masyarakat luas.

Data Terkait

kenaikan-harga-lpg-tekan-ekonomi-ketergantungan-10-provinsi-di-atas-95
Ekonomi

Kenaikan Harga LPG Tekan Ekonomi, Ketergantungan 10 Provinsi di Atas 95%

Kenaikan harga LPG menekan ekonomi rumah tangga, di tengah ketergantungan tinggi di 10 provinsi yang melampaui 95%. Kalimantan Timur catat pengguna tertinggi.

12 jam yang lalu

gencar-sosialisasi-papua-barat-catat-adopsi-kompor-listrik-tertinggi
Ekonomi

Gencar Sosialisasi, Papua Barat Catat Adopsi Kompor Listrik Tertinggi

Kompor listrik mampu menghemat impor LPG, namun penggunaannya masih minim. Papua Barat catat penggunaan tertinggi 4,03%, didorong sosialisasi dan edukasi.

1 hari yang lalu

tren-pengguna-turun-transisi-kompor-listrik-perlu-dioptimalkan
Ekonomi

Tren Pengguna Turun, Transisi Kompor Listrik Perlu Dioptimalkan

Transisi kompor listrik didorong guna menekan impor LPG, namun dalam 5 tahun terakhir penggunaannya justru menurun sehingga perlu dioptimalkan.

2 hari yang lalu

beban-impor-energi-tekan-ri-sawit-berpotensi-dorong-kemandirian-energi
Ekonomi

Beban Impor Energi Tekan RI, Sawit Berpotensi Dorong Kemandirian Energi

Tingginya harga minyak dan ketergantungan impor dapat membebani ekonomi RI. Industri sawit berpotensi jadi solusi untuk mendorong kemandirian energi nasional.

10 Apr 2026

pemerintah-dorong-transisi-energi-kesiapan-tingkat-provinsi-masih-sedang
Ekonomi

Pemerintah Dorong Transisi Energi, Kesiapan Tingkat Provinsi Masih Sedang

Transisi energi RI dipercepat di tengah risiko krisis global, namun kesiapan di berbagai provinsi masih relatif sedang hingga rendah.

3 Apr 2026

b50-dipercepat-ini-deretan-manfaat-mandatori-biodiesel-bagi-ekonomi-ri
Ekonomi

B50 Dipercepat, Ini Deretan Manfaat Mandatori Biodiesel bagi Ekonomi RI

Pemerintah percepat B50 mulai 1 Juli 2026 guna menghemat subsidi Rp 48 triliun. Sebelumnya, penerapan mandatori biodiesel nasional berkontribusi besar dalam perekonomian Indonesia.

2 Apr 2026