Sebagai langkah mewujudkan kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan BBM (Bahan Bakar Minyak), Presiden RI Prabowo Subianto memacu program elektrifikasi sebesar 100 gigawatt. Target ambisius ini diharapkan tercapai dalam 2 tahun guna menghapus penggunaan solar dan diesel pada pembangkit listrik. Rencana strategis tersebut mencakup penutupan 13 unit PLTD milik PLN yang diproyeksikan mampu menghemat konsumsi hingga 200 ribu barel BBM per hari, sekaligus memangkas angka impor nasional secara signifikan.
Selain transformasi sektor energi, pemerintah juga memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik domestik. Presiden baru saja meresmikan fasilitas perakitan PT VKTR Sakti Industries di Magelang yang memiliki kapasitas produksi hingga 10.000 unit bus dan truk listrik per tahun. Melansir data dalam laman resmi Sekretariat Kabinet RI, penguatan industri ini dibarengi dengan peningkatan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap, mulai dari 40% saat ini hingga dipatok mencapai 80% dalam 4 tahun mendatang untuk mengamankan rantai pasok lokal.
Visi besar ini berlanjut pada rencana produksi massal mobil sedan listrik pada tahun 2028 melalui pembentukan perusahaan khusus oleh pemerintah. Langkah ini didukung penuh oleh kebijakan yang menginstruksikan pemerintah daerah untuk memprioritaskan pembelian kendaraan listrik produk dalam negeri. Dengan peralihan total kendaraan komersial ke energi listrik, Indonesia berpotensi menghemat subsidi BBM hingga USD 5 miliar dolar.