Tren Pengguna Turun, Transisi Kompor Listrik Perlu Dioptimalkan

Senin, 20 April 2026 | 17:55 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Tren Pengguna Turun, Transisi Kompor Listrik Perlu Dioptimalkan
Tren Rumah Tangga Pengguna Kompor Listrik di Indonesia, 2020-2025

Transisi menuju penggunaan kompor listrik dinilai menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Melansir data DPR RI, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dengan sebagian besar pasokan masih berasal dari impor. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan anggaran subsidi energi.

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mendorong percepatan elektrifikasi rumah tangga melalui penggunaan kompor induksi. Ia menilai bahwa kebijakan ini tidak hanya berdampak pada pengurangan impor, tetapi juga mampu meningkatkan efisiensi energi. Kompor induksi disebut memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi dibandingkan kompor gas konvensional, sehingga dapat menekan biaya operasional rumah tangga secara signifikan.

Selain itu, penggunaan energi listrik juga berpotensi mengurangi beban subsidi pemerintah. Efisiensi yang dihasilkan dari kompor listrik diperkirakan mampu menghemat hingga 30% dibandingkan penggunaan LPG subsidi. Dengan demikian, migrasi ini dapat memberikan manfaat ganda, baik dari sisi ekonomi rumah tangga maupun pengelolaan fiskal negara.

Meski demikian, adopsi kompor listrik di Indonesia masih sangat terbatas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa penggunaan kompor listrik oleh rumah tangga baru mencapai 0,43% per 2025. Bahkan, angka tersebut sempat menurun dalam 5 tahun terakhir. Pada 2020, penggunaan kompor listrik tercatat lebih tinggi, yakni sebesar 0,76%. 

Tren Rumah Tangga Pengguna Kompor Listrik di Indonesia, 2020-2025
 - (BPS/Melati Kristina/Diproduksi Gemini AI)
Tren Rumah Tangga Pengguna Kompor Listrik di Indonesia, 2020-2025 - (BPS/Melati Kristina/Diproduksi Gemini AI)

Di sisi lain, ketergantungan terhadap LPG masih sangat tinggi, dengan persentase penggunaan mencapai 89,71%. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang kuat serta sosialisasi yang masif agar transisi energi ini dapat berjalan efektif.

Data Terkait

subsidi-energi-melonjak-sepanjang-2026-capai-rp-948-triliun
Ekonomi

Subsidi Energi Melonjak Sepanjang 2026, Capai Rp 94,8 Triliun

Pemerintah telah menggelontorkan subsidi energi sebesar Rp 94,8 triliun hingga Mei 2026. Lonjakan harga energi global menjadi faktor utama meningkatnya beban fiskal.

2 hari yang lalu

mengenal-karakteristik-dan-potensi-cng-sebagai-alternatif-energi
Hukum & Keamanan

Mengenal Karakteristik dan Potensi CNG Sebagai Alternatif Energi

Pemerintah Republik Indonesia saat ini tengah mengintensifkan kajian mendalam mengenai potensi penggunaan CNG.

10 Mei 2026

impor-migas-tinggi-asean-hadapi-kerentanan-energi-global
Ekonomi

Impor Migas Tinggi, ASEAN Hadapi Kerentanan Energi Global

Gejolak Timur Tengah meningkatkan risiko krisis energi di ASEAN. Laos, Thailand, dan Kamboja paling rentan akibat tingginya impor migas.

5 Mei 2026

harga-komoditas-impor-naik-ini-deretan-barang-yang-ikut-melonjak
Ekonomi

Harga Komoditas Impor Naik, Ini Deretan Barang yang Ikut Melonjak

Kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah mendorong lonjakan harga barang impor yang berdampak terhadap harga BBM, LPG, hingga kedelai impor nasional.

28 Apr 2026

singapura-dan-hong-kong-jadi-negara-paling-rapuh-hadapi-krisis-energi
Ekonomi

Singapura dan Hong Kong Jadi Negara Paling Rapuh Hadapi Krisis Energi

Laporan terbaru JP Morgan tahun 2026 merilis daftar negara yang paling rentan terhadap ledakan harga energi dunia.

26 Apr 2026

kenaikan-harga-lpg-tekan-ekonomi-ketergantungan-10-provinsi-di-atas-95
Ekonomi

Kenaikan Harga LPG Tekan Ekonomi, Ketergantungan 10 Provinsi di Atas 95%

Kenaikan harga LPG menekan ekonomi rumah tangga, di tengah ketergantungan tinggi di 10 provinsi yang melampaui 95%. Kalimantan Timur catat pengguna tertinggi.

22 Apr 2026