Transisi menuju penggunaan kompor listrik dinilai menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Melansir data DPR RI, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dengan sebagian besar pasokan masih berasal dari impor. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan anggaran subsidi energi.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mendorong percepatan elektrifikasi rumah tangga melalui penggunaan kompor induksi. Ia menilai bahwa kebijakan ini tidak hanya berdampak pada pengurangan impor, tetapi juga mampu meningkatkan efisiensi energi. Kompor induksi disebut memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi dibandingkan kompor gas konvensional, sehingga dapat menekan biaya operasional rumah tangga secara signifikan.
Selain itu, penggunaan energi listrik juga berpotensi mengurangi beban subsidi pemerintah. Efisiensi yang dihasilkan dari kompor listrik diperkirakan mampu menghemat hingga 30% dibandingkan penggunaan LPG subsidi. Dengan demikian, migrasi ini dapat memberikan manfaat ganda, baik dari sisi ekonomi rumah tangga maupun pengelolaan fiskal negara.
Meski demikian, adopsi kompor listrik di Indonesia masih sangat terbatas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa penggunaan kompor listrik oleh rumah tangga baru mencapai 0,43% per 2025. Bahkan, angka tersebut sempat menurun dalam 5 tahun terakhir. Pada 2020, penggunaan kompor listrik tercatat lebih tinggi, yakni sebesar 0,76%.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap LPG masih sangat tinggi, dengan persentase penggunaan mencapai 89,71%. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang kuat serta sosialisasi yang masif agar transisi energi ini dapat berjalan efektif.