Uni Emirat Arab (UEA) dan Singapura menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tertinggi di dunia pada kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan estimasi Microsoft yang dirilis melalui Visual Capitalist, pemanfaatan perangkat AI di kedua negara tersebut melampaui rata-rata dunia yang saat ini baru mencapai 17,8% dari populasi usia kerja.
Tingkat adopsi ini mengukur proporsi penduduk usia kerja yang aktif menggunakan teknologi AI setidaknya 90 menit setiap bulan. UEA memimpin jauh di peringkat pertama dengan angka adopsi mencapai 70,1%, melonjak signifikan dibandingkan 59,4% pada semester pertama 2025. Singapura menyusul di peringkat kedua dengan tingkat pemanfaatan mencapai 63,4%, naik dari 58,6% pada semester pertama tahun lalu.
Di luar dominasi dua negara tersebut, kawasan Eropa tercatat menjadi episentrum pemanfaatan AI berikutnya. Sejumlah negara di benua ini mencatatkan angka penggunaan di atas 40%. Norwegia berada di posisi ketiga secara global dengan 48,6%, disusul Irlandia (48,4%), Prancis (47,8%), Spanyol (44,2%), Inggris (42,2%), dan Belanda (42,1%). Selandia Baru dan Qatar turut masuk ke dalam daftar sepuluh besar dengan adopsi masing-masing sebesar 43% dan 41,8%.
Tren ini memperlihatkan fenomena menarik dalam lanskap teknologi global. Meski menjadi markas bagi raksasa-raksasa pengembang AI dunia, Amerika Serikat justru berada di luar kelompok 20 besar. Sebaliknya, negara-negara dengan perekonomian yang lebih terfokus seperti UEA dan Singapura melaju lebih pesat berkat integrasi strategi digital yang terpusat serta investasi infrastruktur yang masif.