Perkembangan opini publik global terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) rupanya tidak bergerak secepat lompatan teknologi itu sendiri. Sikap masyarakat dunia cenderung stabil dan belum mengalami pergeseran masif sejak kemunculan ChatGPT yang sempat mengguncang lanskap digital beberapa tahun lalu. Temuan riset Ipsos Global AI Monitor 2026 menunjukkan bahwa dinamika respons terhadap tren AI ini tidak terjadi di ruang hampa, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, geopolitik, sosial, dan lingkungan di masing-masing wilayah.
Berdasarkan data survei yang melibatkan 23.532 responden di 32 negara tersebut, rata-rata global mencatat sebanyak 72% masyarakat mengaku telah memiliki pemahaman yang baik tentang apa itu AI. Menariknya, Indonesia mengukuhkan posisi di peringkat teratas global dengan tingkat pemahaman mencapai 89% pada tahun 2026. Angka ini secara konsisten menempatkan Indonesia di jajaran puncak dalam beberapa tahun terakhir, setelah sebelumnya mencatat 84% pada 2023, 86% pada 2024, dan 91% pada 2025. Di posisi berikutnya, China menyusul dengan tingkat pemahaman 84%, disusul Afrika Selatan dengan 83%, serta India dengan 82%. Sebaliknya, Jepang berada di posisi terbawah dengan hanya 48% masyarakatnya yang merasa paham akan teknologi tersebut.
Dampak teknologi ini pun kian nyata dirasakan dalam keseharian masyarakat. Sebesar 54% responden global menyatakan bahwa produk dan layanan berbasis AI telah mengubah kehidupan sehari-hari mereka secara mendalam dalam 3 hingga 5 tahun terakhir. Ekspektasi terhadap masa depan bahkan jauh lebih besar, di mana 66% publik meyakini AI akan mengubah total pola hidup mereka dalam kurun waktu 3 hingga 5 tahun ke depan.
Uniknya, di tengah masifnya adopsi ini, ada kesadaran lingkungan yang menonjol; sebanyak 80% responden sepakat bahwa potensi manfaat AI bagi masyarakat luas masih jauh lebih besar ketimbang dampak buruk atau biaya lingkungan yang ditimbulkannya. Kendati demikian, keraguan mulai tumbuh di beberapa wilayah. Di 17 dari 28 negara yang disurvei berturut-turut pada tahun ini dan tahun lalu, masyarakat kini cenderung lebih skeptis dan mulai kurang sepakat bahwa AI membawa lebih banyak keuntungan daripada kerugian.
Riset Ipsos juga menegaskan adanya ketegangan psikologis yang persisten antara kekaguman dan kekhawatiran terhadap AI, yang distribusinya sangat bervariasi secara geografis. Di wilayah APAC (Asia-Pasifik), antusiasme masyarakat tergolong tinggi dengan 64% merasa bersemangat meski 52% tetap merasa cemas. Pola serupa terlihat di LATAM (Amerika Latin) dengan tingkat antusiasme 56% dan kecemasan 47%. Kondisi kontradiktif justru terjadi di wilayah barat; masyarakat Eropa cenderung lebih cemas daripada antusias (50% cemas berbanding 39% antusias), sedangkan wilayah NA (Amerika Utara) merekam tingkat kecemasan tertinggi di dunia mencapai 65%, dengan hanya 29% warga yang merasa optimistis terhadap kehadiran produk berbasis AI.