Riset terbaru bertajuk The Global Infrastructure Index 2026 yang dirilis oleh lembaga riset internasional IPSOS menunjukkan variasi yang cukup besar terkait tingkat kepuasan publik terhadap pembangunan infrastruktur nasional di 29 negara. Secara umum, kepuasan masyarakat dunia cenderung stagnan di angka 38%, relatif sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari total responden global, 30% menyatakan tidak puas dan 29% lainnya memilih bersikap netral atau biasa saja. Namun, di balik stagnasi tersebut, terjadi penurunan indeks kepuasan yang sangat tajam di sejumlah negara maju (G7) antara tahun 2024 dan 2026, seperti Britania Raya dan Jerman yang merosot hingga 11 poin, serta Amerika Serikat yang turun 8 poin.
Di tengah tren penurunan negara-negara barat, Indonesia justru menorehkan hasil yang cukup positif dengan berada di peringkat papan atas, sekaligus melampaui rata-rata global. Sebanyak 49% masyarakat Indonesia menyatakan puas terhadap kondisi infrastruktur nasional, mulai dari jaringan jalan, rel kereta api, jalur udara, utilitas energi dan air, hingga jaringan telekomunikasi broadband. Sementara itu, tingkat ketidakpuasan publik di dalam negeri tercatat relatif rendah, yakni hanya sebesar 20%, dengan 30% sisanya menilai biasa saja. Pencapaian Indonesia yang berada di angka 49% ini setara dengan Cile.
Secara global, Singapura mengukuhkan posisinya di peringkat pertama dengan tingkat kepuasan infrastruktur tertinggi yang mencapai 74%, disusul oleh India di posisi kedua dengan 69%, dan Belanda di tempat ketiga dengan 65%. Indonesia berhasil mengungguli tingkat kepuasan di sejumlah negara maju lainnya seperti Korea Selatan (47%), Jepang (45%), Prancis (43%), serta Australia (41%). Sebaliknya, gelombang ketidakpuasan yang tinggi justru terlihat di beberapa negara besar. Amerika Serikat dan Jerman mencatatkan tingkat kepuasan yang masing-masing hanya menyentuh 25% dan 24%, dengan angka ketidakpuasan yang dominan mencapai 38% dan 45%. Lanjutnya, Hungaria menempati posisi terbawah dalam indeks tahun ini, yakni hanya 16% warganya yang merasa puas, berbanding terbalik dengan 48% masyarakatnya yang menyatakan tidak puas.
Sementara itu untuk Indonesia, masyarakat menilai bahwa sektor pertahanan banjir masih menjadi kebutuhan mendesak yang harus diprioritaskan, dengan angka mencapai 50%, jauh di atas rata-rata global yang hanya 35%.
Secara makro, mayoritas publik melihat investasi infrastruktur membawa dampak positif yang masif. Sebanyak 72% responden global percaya investasi ini mampu menciptakan lapangan kerja dan mendongkrak ekonomi, serta 59% yakin dapat membantu mengatasi perubahan iklim. Selain itu, keterbatasan anggaran pemerintah membuat 70% masyarakat global mulai terbuka dan menyambut baik keterlibatan sektor swasta, asalkan investasi tersebut mampu memberikan hasil perbaikan yang nyata di lapangan.