Biaya hidup dan ketersediaan lapangan kerja masih membayangi masyarakat Indonesia di paruh kedua tahun ini. Riset terbaru lembaga survei Ipsos Indonesia merekam bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok menempati posisi teratas sebagai isu yang paling dikhawatirkan publik, yakni mencapai 81 persen pada survei Agustus 2026.
Meski sedikit melandai dari angka 82% pada April 2026, tekanan harga barang pokok ini dinilai masih menjadi penentu utama perilaku belanja sehari-hari. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap lonjakan angka pengangguran justru melompat cukup tajam, dari 35% pada April menjadi 45% pada Agustus 2026.
Selain kedua isu tersebut, survei mencatat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan energi berada di posisi kedua dengan 65% (turun dari 78%). Diikuti oleh kekhawatiran terhadap laju inflasi sebesar 46%, meningkatnya angka kemiskinan 40%, serta harga gas LPG 28%. Sementara isu biaya transportasi umum dan tiket pesawat masing-masing berada di level 18 persen dan 7%.
Melihat pergeseran tersebut, Managing Director Ipsos Indonesia, Hansal Savla, menekankan bahwa kondisi ini langsung memengaruhi pola konsumsi masyarakat di pasar.
“Kita melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian,” ujar Hansal dalam acara Ipsos Growth Forum 2026 di Jakarta (23/9).
Kondisi ekonomi makro sejatinya menunjukkan sinyal positif, di mana indeks keyakinan konsumen (Consumer Confidence Index) Indonesia berada di level 53,9 pada Agustus 2026 dan menempati peringkat kelima dari 30 negara. Namun, posisi ini turut dipengaruhi oleh melemahnya sentimen di beberapa negara lain, sementara tekanan daya beli di dalam negeri masih nyata dirasakan.
Untuk itu, para pelaku usaha dinilai perlu menyesuaikan strategi dengan memastikan produk mudah ditemukan dan memiliki variasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar, alih-alih hanya bergantung pada promosi harga semata.