Sepanjang Juli hingga Oktober 2026, rentetan dugaan keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus bermunculan di berbagai daerah di Indonesia. Kasus ini menimpa siswa, guru, santri, balita, hingga ibu hamil dengan keluhan serupa, seperti mual, muntah, diare, dan pusing.
Kasus awal tercatat pada 23 Juli 2026 di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, saat 211 siswa mengalami keracunan massal. Pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Bacillus cereus pada sampel tumis buncis dan wortel, yang berujung pada pembekuan operasional sementara SPPG Purwodadi. Sepekan kemudian, tepatnya 31 Juli 2026, giliran 707 siswa dan 14 guru di SMK Negeri 6 Semarang yang jatuh sakit. Badan Gizi Nasional (BGN) lantas menghentikan sementara operasional SPPG Karangturi guna investigasi lanjutan.
Dugaan keracunan meluas ke luar Jawa pada 4 Agustus 2026. Sebanyak 543 warga dari 14 kampung di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, dilaporkan tumbang usai mengonsumsi MBG. Korban didominasi anak-anak dan balita, selain tiga ibu hamil yang turut dirawat. Penyelidikan awal menduga pengolahan makanan yang terlalu dini memicu kontaminasi tersebut. Di Sumatra Utara, sebanyak 353 murid SMK Negeri 1 Berastagi mengalami insiden serupa pada 13 Agustus 2026 dari pasokan SPPG Karo Berastagi Sempajaya. Hasil uji sampel mendeteksi Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dencis saus dan muntahan siswa, serta E. coli pada buah melon.
Memasuki September 2026, gelombang keracunan belum mereda. Pada 1 September 2026, sebanyak 664 siswa dan santri Manbaul Hikam di Sidoarjo, Jawa Timur, mengeluhkan gejala mual hingga diare seusai menyantap makanan dari SPPG Kalitengah. Keesokan harinya, insiden serupa menimpa 725 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Pada tanggal yang sama, 49 siswa SMAN 3 Nganjuk, Jawa Timur, turut mengalami mual dan pusing usai menyantap sajian nasi goreng.
Insiden berlanjut pada 2 Oktober 2026, ketika 151 siswa dan guru mengeluhkan mual, pusing, serta diare seusai mengonsumsi menu dimsum ayam jamur. Lalu pada 20 Oktober 2026 di Kota Cirebon, Jawa Barat, sebanyak 395 orang di 15 sekolah, delapan posyandu, dan 23 kelompok belajar jatuh sakit setelah menyantap sajian sop dan telur puyuh dari SPPG Kalijaga 05, yang operasionalnya kini telah dibekukan.
Kasus terkini terjadi di Cisarua, Jawa Barat, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Sebanyak 92 siswa SMPN 2 Cisarua dilarikan ke RSPG Cisarua akibat mual, muntah mendadak, serta diare. Gangguan kesehatan ini diduga dipicu oleh konsumsi susu UHT kemasan yang dibagikan bersama menu MBG oleh SPPG Leuwimalang 01. Pihak kepolisian telah mengevakuasi para siswa, sementara Dinas Kesehatan dan SPPG mengamankan sampel susu yang dicurigai rusak kemasannya ke Labkesda untuk uji klinis.
Rentetan kejadian di berbagai daerah ini memperlihatkan rapuhnya aspek keamanan pangan pada rantai distribusi MBG. Pemerintah dan dinas kesehatan terkait merespons dengan memeriksa sampel makanan, menelusuri sumber kontaminasi, mengevaluasi standar operasional, hingga menutup sementara dapur SPPG yang bermasalah.