Kondisi ketenagakerjaan di Indonesia pada Februari 2026 secara nasional menunjukkan tren perbaikan yang positif dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah total angkatan kerja di tanah air kini tercatat menyentuh angka 154 juta orang. Dari jumlah tersebut, masyarakat yang berstatus sebagai penduduk bekerja sudah mencapai 147,6 juta orang, sementara angka pengangguran ditekan hingga menyisakan 7,2 juta orang. Peningkatan penyerapan pasar kerja ini turut mendorong Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menyentuh angka 70,56%, sekaligus memicu penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi sebesar 4,68%, yang dinilai lebih rendah daripada capaian pada periode Februari 2025.
Melihat lebih dalam pada profil penduduk yang telah bekerja, data demografi memperlihatkan dominasi yang kuat dari pekerja laki-laki yang porsinya berada di angka 60,1%. Dari aspek geografis, mobilisasi pekerja ini paling banyak terkonsentrasi di kawasan perkotaan dengan persentase 61,09%. Kelompok umur produktif 35 hingga 44 tahun menjadi kontributor mayoritas di sektor ini dengan porsi 22,93%, atau setara dengan 33.858.829 jiwa secara riil. Kendati demikian, tantangan kualitas sumber daya manusia masih terlihat jelas karena sebagian besar dari total penduduk yang bekerja tersebut, atau sekitar 35,49%, didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah.
Dari sisi lapangan usaha, roda perekonomian nasional terpantau masih bersandar pada beberapa sektor konvensional. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan kokoh berdiri sebagai lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi penyerapan tenaga kerja terbesar bagi masyarakat. Posisinya kemudian disusul secara berturut-turut oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran, serta sektor Industri pengolahan yang terus berupaya memperluas ruang ekspansinya.
Di sisi lain, potret peta pengangguran nasional memperlihatkan karakteristik spesifik yang memerlukan perhatian khusus. Sama seperti kelompok pekerja, jumlah pengangguran pun didominasi oleh laki-laki dengan persentase mencapai 62,9% dan mayoritas bertempat tinggal di wilayah perkotaan dengan angka dominan 73,81%. Tantangan terbesar dihadapi oleh kelompok usia muda, di mana mayoritas pengangguran berpusat pada kelompok umur 15–24 tahun dengan porsi masif mencapai 49 persen dari total pencari kerja, atau setara dengan 3,5 juta jiwa. Jika ditinjau dari latar belakang akademisnya, persentase pengangguran ini sebagian besar disumbang oleh penduduk dengan riwayat lulusan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mencakup angka 28%.