Proyek gas raksasa Blok Masela dijadwalkan memulai tahap pembangunan melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Kamis, 16 Juli 2026. Acara tersebut akan dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto sebagai penanda dimulainya salah satu proyek strategis nasional di sektor energi.
Blok Masela berlokasi sekitar 160 kilometer di lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, pada kedalaman laut 400–800 meter dengan potensi cadangan gas mencapai 6,97 TCF.Melansir data Kementerian ESDM, Blok Masela diperkirakan memiliki kapasitas produksi sebesar 9,5 juta ton per tahun (MTPA) liquefied natural gas (LNG), 150 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari) gas pipa, serta 35 ribu barel minyak kondensat.
Pengembangan proyek ini membutuhkan investasi sekitar US$ 20 miliar serta berpotensi menciptakan lebih dari 12 ribu lapangan kerja. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat lokal dan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna mendukung pengelolaan emisi.
Hak partisipasi Blok Masela dimiliki oleh Inpex Masela Ltd sebesar 65%, PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20%, serta Petronas sebesar 15%. Pemerintah juga menetapkan skema pemanfaatan gas yang berimbang, yaitu 60% dialokasikan untuk pasar ekspor dan 40% untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara penerimaan devisa dan ketahanan energi nasional.
Setelah groundbreaking, proyek Blok Masela ditargetkan memasuki tahap konstruksi pada 2027 dan mulai berproduksi pada periode 2029–2030. Kehadiran proyek ini diharapkan menjadi salah satu penggerak investasi sektor hulu migas, meningkatkan pasokan energi nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen LNG di kawasan Asia Pasifik.