Pengelolaan daycare di berbagai negara menunjukkan pendekatan yang beragam, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjamin kualitas pengasuhan, keselamatan, dan perkembangan anak secara optimal. Australia, Jepang, dan Denmark menjadi contoh negara dengan sistem pengasuhan anak yang relatif maju dan terstruktur.
Di Australia, layanan childcare diatur melalui National Quality Framework (NQF), yaitu kerangka nasional yang mengintegrasikan standar, penilaian, dan peningkatan kualitas layanan. Implementasinya melibatkan pemerintah pusat hingga daerah dengan koordinasi oleh Australian Children’s Education and Care Quality Authority. Setiap penyedia layanan wajib memenuhi National Quality Standard (NQS) yang mencakup tujuh area kualitas, mulai dari program pembelajaran hingga tata kelola. Kurikulum nasional yang digunakan adalah Early Years Learning Framework (EYLF), yang menekankan pembelajaran berbasis bermain dan perkembangan holistik anak. Dari sisi SDM, tenaga pengasuh diwajibkan memiliki kualifikasi minimal Certificate III hingga gelar sarjana untuk posisi guru dan kepemimpinan.
Sementara itu, di Jepang, daycare yang dikenal sebagai hoikuen merupakan layanan pengasuhan non-wajib yang dikelola pemerintah daerah, dengan prioritas bagi keluarga bekerja. Sistem di Jepang menekankan kedisiplinan, kesehatan, dan keselamatan anak. Anak usia 6 minggu hingga 6 tahun dilayani dengan durasi 4–8 jam per hari. Pemeriksaan kesehatan dilakukan minimal dua kali setahun, serta terdapat kewajiban mengikuti asuransi kecelakaan. Jepang juga memiliki standar rasio pengasuh yang rinci berdasarkan usia, serta kewajiban latihan evakuasi bencana secara rutin setiap bulan. Dari sisi SDM, tenaga pengasuh harus memiliki lisensi resmi dan pengalaman kerja, terutama untuk posisi kepala lembaga.
Di Denmark, pendekatan yang digunakan berbasis hak anak. Melalui Act on ECEC, setiap anak dijamin secara hukum untuk mendapatkan akses layanan PAUD sejak usia 26 minggu hingga masuk sekolah dasar. Pemerintah daerah bertanggung jawab penuh atas penyediaan layanan ini. Sistem daycare di Denmark mencakup berbagai jenis layanan, mulai dari pengasuhan keluarga hingga taman kanak-kanak. Rasio pengasuh relatif ketat, yakni 1:3 untuk anak usia 0–2 tahun dan 1:6 untuk usia lebih besar. Kurikulum nasional menekankan enam aspek perkembangan, termasuk sosial, bahasa, fisik, hingga budaya. Dari sisi tenaga kerja, staf terdiri dari guru dengan gelar sarjana, asisten terlatih, serta tenaga pendukung.
Secara umum, ketiga negara tersebut menunjukkan bahwa kualitas daycare ditopang oleh beberapa faktor utama, yaitu regulasi yang jelas, standar tenaga kerja yang tinggi, kurikulum yang terstruktur, serta pengawasan yang konsisten. Australia unggul dalam sistem penilaian mutu yang terintegrasi, Jepang menonjol dalam disiplin operasional dan keselamatan, sementara Denmark kuat dalam pendekatan berbasis hak anak dan akses universal.
Pembelajaran dari praktik internasional ini menunjukkan bahwa penguatan standar, pengawasan, dan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam menciptakan layanan daycare yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.