Pada 1998, tingkat kemiskinan di Indonesia pernah berada dalam fase yang sangat parah, yakni di angka 24,2%. Seiring berjalannya waktu, tingkat kemiskinan di Indonesia kian membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, angka kemiskinan RI pada 2024 hanya 8,57% (September 2024). Data lain dari Bank Dunia mencatat, hanya 5,4% penduduk Indonesia yang berada dalam kategori miskin ekstrem pada 2024. Bank Dunia juga menyebut bahwa pencapaian tersebut menjadi bukti berhasilnya program pengentasan kemiskinan dalam menarik masyarakat dari level ekonomi terbawah.
Secara umum, pada periode September 2014–September 2025, tingkat kemiskinan di Indonesia menunjukkan tren penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase, kecuali pada Maret 2015, Maret 2020, September 2020, dan September 2022. Tingkat kemiskinan tertinggi selama periode tersebut tercatat pada Maret 2015, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 28,59 juta orang atau 11,22%. Peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin pada Maret 2015 dan September 2022 terjadi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak. Sementara itu, kenaikan pada Maret dan September 2020 disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia. Kondisi ekonomi yang mulai pulih pasca pandemi sejalan dengan perkembangan tingkat kemiskinan yang mulai berangsur turun dari Maret 2021 hingga September 2025.
Capaian dan Distribusi Penduduk Miskin Tahun 2025
Angka kemiskinan RI terus menunjukkan perbaikan. Data BPS pada September 2025 melaporkan, penduduk miskin di Indonesia adalah 8,25%, turun 0,32% jika dibandingkan September 2024. Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2025 mencapai 23,36 juta orang. Dibandingkan Maret 2025, jumlah penduduk miskin menurun 0,49 juta orang. Sementara jika dibandingkan dengan September 2024, jumlah penduduk miskin menurun sebanyak 0,70 juta orang. Persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebesar 8,25%, menurun 0,22% poin terhadap Maret 2025 dan menurun 0,32% poin terhadap September 2024.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2025–September 2025, jumlah penduduk miskin perkotaan meningkat sebesar 0,09 juta orang sedangkan di perdesaan turun sebesar 0,40 juta orang. Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 6,73% menjadi 6,60%. Sementara itu, di perdesaan turun dari 11,03% menjadi 10,72%. Terlihat bahwa persentase penduduk miskin terbesar berada di wilayah Pulau Maluku dan Papua, yaitu sebesar 18,22%. Sementara itu, persentase penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan, yaitu sebesar 5,02%. Namun demikian, dari sisi jumlah, sebagian besar penduduk miskin masih berada di Pulau Jawa (12,32 juta orang), sedangkan jumlah penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan (0,88 juta orang).
Garis Kemiskinan dan Komposisi Pengeluaran
Garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan pada September 2025 adalah sebesar Rp641.443 per kapita per bulan. Dibandingkan Maret 2025, Garis Kemiskinan naik sebesar 5,30%. Sementara jika dibandingkan September 2024, terjadi kenaikan sebesar 7,76%. BPS juga mencatat bahwa komposisi Garis Kemiskinan tersebut terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp478.955 (74,67%) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp162.488 (25,33%).
Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada September 2025 di perkotaan sebesar 73,81% dan di perdesaan sebesar 76,11%.
Beras masih memberi sumbangan terbesar, yakni sebesar 21,10% di perkotaan dan 24,62% di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (10,41% di perkotaan dan 9,11% di perdesaan). Komoditas lainnya adalah telur ayam ras (4,48% di perkotaan dan 3,71% di perdesaan), daging ayam ras (4,35% di perkotaan dan 3,42% di perdesaan), kopi bubuk & kopi instan (sachet) (2,39% di perkotaan dan 2,38% di perdesaan), mie instan (2,35% di perkotaan dan 2,04% di perdesaan), dan seterusnya. Komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar adalah perumahan (9,00% di perkotaan dan 9,08% di perdesaan), bensin (2,88% di perkotaan dan 2,90% di perdesaan), dan listrik (2,65% di perkotaan dan 1,64% di perdesaan). Secara rata-rata, Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin pada September 2025 adalah sebesar Rp3.053.698,00/bulan, naik sebesar 6,21% dibanding kondisi Maret 2025 yang sebesar Rp2.875.235,00/bulan.
Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan
Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap Garis Kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Pada September 2025, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) sebesar 1,290; menurun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 1,365 dan September 2024 yang sebesar 1,364. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada September 2025 sebesar 0,303; turun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 0,319 dan September 2024 yang sebesar 0,322.
Apabila dibandingkan berdasarkan daerah, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) perdesaan lebih tinggi daripada perkotaan. Pada September 2025, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan sebesar 1,040 sedangkan di perdesaan lebih tinggi, yaitu mencapai 1,661. Demikian pula untuk nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), di perkotaan nilainya sebesar 0,245 sedangkan di perdesaan lebih tinggi, yaitu mencapai 0,390.
Faktor-Faktor Pendorong Penurunan Kemiskinan
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan September 2025 antara lain adalah:
- Perekonomian Indonesia pada Triwulan III-2025 tumbuh sebesar 5,04% (y-on-y)
- Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada Triwulan III-2025 tercatat sebesar Rp1.786,7 triliun, meningkat 2,62% dibandingkan Triwulan I-2025 dan meningkat 4,89% dibandingkan Triwulan III-2024
- Sepanjang Agustus 2024–Agustus 2025 terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,90 juta orang
- Pada Agustus 2025, jumlah penduduk bekerja pada kegiatan formal mencapai 61,84 juta orang atau 42,20%, meningkat 0,15% poin dibandingkan Agustus 2024
- Tingkat setengah pengangguran pada Agustus 2025 menurun sebesar 0,08% poin dibandingkan Agustus 2024
- Fenomena ketenagakerjaan pada Agustus 2025 tersebut terus berlanjut hingga Triwulan IV-2025
- Luas panen padi pada September 2025 sebesar 1,13 juta hektare, meningkat 48,68% dibanding Februari 2025 (0,76 juta hektare), dan 9,71% dibanding September 2024 (1,03 juta hektare)
- Produksi padi pada September 2025 untuk konsumsi pangan penduduk sebanyak 5,97 juta ton GKG, meningkat 50,76% dibanding Februari 2025 (3,96 juta ton GKG) dan 8,74% dibanding September 2024 (5,49 juta ton GKG)
- Realisasi penyaluran bantuan sosial hingga akhir September 2025 mencapai Rp112,7 triliun atau 75,5% dari target APBN sebesar Rp154 triliun, tumbuh 1,0% (y-on-y) dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp111,6 triliun.