Dunia akademik internasional diguncang oleh skandal fabrikasi data dan manipulasi identitas sistematis yang melibatkan oknum periset mandiri asal Indonesia. Kasus ini bermula pada konferensi ilmiah bergengsi International Society of Pneumococcal and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, yang berlangsung pada 17 hingga 21 Mei 2026. Kelompok periset yang dipimpin oleh Rivaldy Fajar dan Prihantini tersebut diketahui mengirimkan 19 judul abstrak penelitian bombastis mengenai vaksin. Sebelum skandal ini terungkap, kelompok ini disinyalir telah menggunakan modus serupa untuk mendapatkan dana bantuan perjalanan (travel grant) ke berbagai konferensi internasional sepanjang tahun 2025 di Australia dan Jepang.
Titik balik pembongkaran kedok ini terjadi pada hari kedua konferensi, tepatnya 18 Mei 2026, ketika epidemiolog Indonesia dari Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat, menangkap basah aksi manipulasi fisik Prihantini di lokasi. Demi mempresentasikan beberapa penelitian berbeda secara bergantian, Prihantini nekat bertukar kartu nama fiktif milik koleganya serta sengaja memodifikasi lapisan kerudungnya agar terlihat seperti individu yang berbeda. Kecurigaan para ahli makin diperkuat oleh ketidakmampuan pelaku menjawab pertanyaan teknis. Setelah dokumen dibedah, data klinis yang diklaim berasal dari wilayah ekstrem lintas negara seperti Andes Peru hingga Ethiopia terbukti merupakan hasil fabrikasi kecerdasan buatan (AI) tanpa adanya izin etik maupun kolaborator lokal.
Berdasarkan media monitoring tim riset DATASATU, komite penyelenggara ISPPD langsung mengambil tindakan tegas berupa pembatalan travel grant dan pemblokiran seluruh karya manipulatif tersebut pada 21 Mei 2026 setelah menerima laporan resmi. Skandal ini kemudian meledak di ruang publik Indonesia pada 25 Mei 2026 usai draf buktinya diunggah ke media sosial oleh dosen Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika. Netizen segera mengidentifikasi profil kedua pelaku utama sebagai alumni program studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kasus yang dinilai sangat mencoreng kredibilitas ilmuwan tanah air di kancah global ini kian menjadi sorotan nasional setelah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengonfirmasi bahwa Prihantini merupakan salah satu alumni penerima beasiswa mereka angkatan tahun 2022.