Periode mudik Lebaran 2026 diperkirakan kembali menjadi motor penggerak ekonomi nasional melalui lonjakan konsumsi masyarakat. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan perputaran uang selama Ramadan hingga Lebaran tahun ini berada di kisaran Rp 148-160 triliun, seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat yang diperkirakan mencapai 143,9 juta orang.
Estimasi tersebut didasarkan pada asumsi sekitar 35-36 juta kepala keluarga yang melakukan perjalanan mudik dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp 4-4,5 juta selama periode Ramadan hingga Lebaran. Besarnya konsumsi ini mencerminkan peran signifikan tradisi mudik dalam mendorong aktivitas ekonomi domestik, khususnya di sektor transportasi, makanan, dan ritel.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai lonjakan konsumsi selama momen Lebaran berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat sekitar 10-15%, sehingga mendukung target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4-5,5%.
Sejumlah indikator ekonomi turut memperkuat proyeksi tersebut, salah satunya yaitu indeks keyakinan konsumen yang masih berada di level optimistis yakni di level 125,2 pada Februari 2026. Di samping itu, aktivitas manufaktur juga masih ekspansif dengan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur yang berada di level 53,8 di Februari 2026, serta penjualan ritel yang mulai meningkat menjelang Ramadan. Adapun data Bank Indonesia mencatat, angka pertumbuhan Indeks Penjualan Ritel (IPR) Indonesia masih bertumbuh 4,4% secara bulanan (month to month/mtm) pada Februari 2026.
Selain itu, pemerintah juga memberikan berbagai stimulus untuk mendorong mobilitas masyarakat, mulai dari diskon tarif transportasi sebesar Rp 911,6 miliar, penyaluran THR bagi ASN, TNI, Polri, dan pensiunan sebesar Rp 65 triliun, hingga dorongan THR sektor swasta dan kebijakan work from anywhere (WFA) yang memperluas fleksibilitas perjalanan.