Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61% yoy pada triwulan I-2026. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya mencapai 5,52% yoy, padahal sektor ini memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional. BPS mencatat, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,36% terhadap PDB Indonesia pada periode tersebut.
Sejumlah faktor dinilai masih menahan laju konsumsi masyarakat. Menurut INDEF dalam paparannya, Salah satu faktor tersebut adalah melemahnya daya beli masyarakat dengan rata-rata upah buruh nasional yang hanya mencapai Rp 3,29 juta per bulan. Selain itu, sektor manufaktur juga melambat. PMI Manufaktur Indonesia tercatat terkontraksi ke level 49,1 pada April 2026.
Di sisi lain, pekerja informal masih mendominasi pasar tenaga kerja nasional, yakni mencapai 59,42% atau sekitar 87,74 juta orang. Kondisi tersebut mencerminkan masih besarnya kelompok masyarakat dengan pendapatan yang relatif tidak stabil.
Meski menghadapi berbagai tekanan, konsumsi rumah tangga tetap terdorong oleh momentum Ramadan dan Lebaran. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 4,74% yang ditopang belanja pakaian Lebaran dan kebutuhan pokok. Selain itu, transaksi belanja online juga tumbuh 6,19% q-to-q selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Aktivitas masyarakat selama musim libur turut menopang sejumlah sektor jasa. BPS mencatat, sektor akomodasi serta makan minum tumbuh masing-masing sebesar 13,14%, sementara konsumsi hotel dan restoran naik 11,63% yoy akibat meningkatnya wisata dan kegiatan buka bersama.
Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% yoy didorong aktivitas mudik dan distribusi logistik Lebaran. Pada saat yang sama, nilai transaksi uang elektronik dan kartu ATM juga meningkat 4,20% yoy, menandakan aktivitas konsumsi masyarakat masih cukup terjaga.