Konsumsi Rumah Tangga Belum Maksimal Dorong PDB, Ini Faktornya

Rabu, 13 Mei 2026 | 13:00 WIB

M
Penulis: Melati Kristina | Editor: MA
Facebook X Whatsapp Telegram
URL berhasil di salin.
Konsumsi Rumah Tangga Belum Maksimal Dorong PDB, Ini Faktornya
Faktor Pendorong dan Penghambat Konsumsi Rumah Tangga Indonesia, Triwulan I-2026

Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61% yoy pada triwulan I-2026. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya mencapai 5,52% yoy, padahal sektor ini memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional. BPS mencatat, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,36% terhadap PDB Indonesia pada periode tersebut.

Sejumlah faktor dinilai masih menahan laju konsumsi masyarakat. Menurut INDEF dalam paparannya, Salah satu faktor tersebut adalah melemahnya daya beli masyarakat dengan rata-rata upah buruh nasional yang hanya mencapai Rp 3,29 juta per bulan. Selain itu, sektor manufaktur juga melambat. PMI Manufaktur Indonesia tercatat terkontraksi ke level 49,1 pada April 2026. 

Faktor Pendorong dan Penghambat Konsumsi Rumah Tangga Indonesia, Triwulan I-2026 - (INDEF & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)
Faktor Pendorong dan Penghambat Konsumsi Rumah Tangga Indonesia, Triwulan I-2026 - (INDEF & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)

Di sisi lain, pekerja informal masih mendominasi pasar tenaga kerja nasional, yakni mencapai 59,42% atau sekitar 87,74 juta orang. Kondisi tersebut mencerminkan masih besarnya kelompok masyarakat dengan pendapatan yang relatif tidak stabil.

Meski menghadapi berbagai tekanan, konsumsi rumah tangga tetap terdorong oleh momentum Ramadan dan Lebaran. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 4,74% yang ditopang belanja pakaian Lebaran dan kebutuhan pokok. Selain itu, transaksi belanja online juga tumbuh 6,19% q-to-q selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Aktivitas masyarakat selama musim libur turut menopang sejumlah sektor jasa. BPS mencatat, sektor akomodasi serta makan minum tumbuh masing-masing sebesar 13,14%, sementara konsumsi hotel dan restoran naik 11,63% yoy akibat meningkatnya wisata dan kegiatan buka bersama. 

Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% yoy didorong aktivitas mudik dan distribusi logistik Lebaran. Pada saat yang sama, nilai transaksi uang elektronik dan kartu ATM juga meningkat 4,20% yoy, menandakan aktivitas konsumsi masyarakat masih cukup terjaga.

Data Terkait

investasi-semester-i-2026-tembus-rp-10106-t-serap-145-juta-pekerja
Ekonomi

Investasi Semester I-2026 Tembus Rp 1.010,6 T, Serap 1,45 Juta Pekerja

Realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2%, menyerap 1,45 juta pekerja.

20 Agu 2026

pemerintah-siapkan-7-strategi-ekonomi-dan-fiskal-ri-2027
Ekonomi

Pemerintah Siapkan 7 Strategi Ekonomi dan Fiskal RI 2027

Pemerintah resmi merumuskan arah kebijakan strategis guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional pada tahun 2027.

14 Agu 2026

ekonomi-semester-i-2026-tumbuh-545-dan-raih-peringkat-positif
Ekonomi

Ekonomi Semester I 2026 Tumbuh 5,45% dan Raih Peringkat Positif

Kondisi perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang sangat positif sepanjang paruh pertama tahun ini.

14 Agu 2026

rasio-utang-pemerintah-ke-pdb-capai-4126-melonjak-3-tahun-terakhir
Ekonomi

Rasio Utang Pemerintah ke PDB Capai 41,26%, Melonjak 3 Tahun Terakhir

Utang pemerintah pada Semester I-2026 mencapai Rp 10.293,62 triliun, dengan rasio terhadap PDB sebesar 41,26%.

14 Agu 2026

elastisitas-pdb-terhadap-kesempatan-kerja-manufaktur-ri-unggul-di-asia
Ekonomi

Elastisitas PDB terhadap Kesempatan Kerja Manufaktur RI Unggul di Asia

Elastisitas PDB terhadap kesempatan kerja manufaktur Indonesia mencapai 0,804, lebih tinggi dari Vietnam, Malaysia, dan China. Meski demikian sektor jasa dan pertanian relatif tertinggal.

10 Agu 2026

industri-manufaktur-masih-ekspansi-indeks-tenaga-kerja-terkontraksi
Ekonomi

Industri Manufaktur Masih Ekspansi, Indeks Tenaga Kerja Terkontraksi

BPS mencatat IKBM mencapai 52,31 pada kuartal II-2026 atau masih berada di zona ekspansi. Namun, komponen tenaga kerja turun ke level kontraksi 49,92.

7 Agu 2026