Tingkat kecukupan distribusi daging kurban pada Idul Adha 2026 masih timpang antarwilayah. Menurut Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) dalam riset berjudul “Peta Ekonomi Kurban 2026”, ttotal potensi daging kurban nasional mencapai sekitar 99,29 ribu ton, sementara kebutuhan daging mustahik diperkirakan sekitar 99,18 ribu ton.
Dengan demikian, secara agregat terdapat surplus sangat tipis sekitar 114,9 ton dengan rasio kecukupan sekitar 100,12%. Meski demikian, surplus besar hanya terkonsentrasi di sejumlah kecil kota dan kabupaten tertentu, sedangkan mayoritas daerah justru mengalami defisit daging kurban.
IDEAS mencatat dari total 514 kabupaten/kota, sebanyak 343 daerah memiliki tingkat distribusi daging kurban di bawah 80%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 163 daerah masuk kategori defisit parah dengan tingkat distribusi di bawah 20%. Selain itu, sebanyak 107 daerah berada dalam kategori sangat defisit dengan distribusi sekitar 20-50%, sedangkan 73 wilayah lainnya mencatat distribusi sebesar 50-80%.
Wilayah Sumatera menjadi kawasan dengan pola defisit paling ekstrem. IDEAS mencatat potensi daging kurban di Sumatera hanya sekitar 9,67 ribu ton, sedangkan kebutuhan mencapai sekitar 2226 ribu ton sehingga defisit regional mencapai sekitar 12,59 ribu ton. Pola tersebut ditemukan di sejumlah wilayah seperti Banyuasin, Musi Rawas, hingga Musi Banyuasin.
Bahkan, Lampung Timur menjadi wilayah dengan titik rawan terbesar dengan defisit mencapai 473,60 ton dan tingkat kecukupan hanya 3,50%. IDEAS menilai kondisi tersebut menunjukkan defisit kurban tidak hanya terjadi di wilayah terpencil atau minoritas muslim, tetapi juga di daerah agraris dengan kebutuhan daging yang besar namun potensi kurban lokal yang terbatas.
Di sisi lain, IDEAS melaporkan hanya terdapat 45 wilayah dengan tingkat kecukupan distribusi daging kurban di kisaran 80-120%. Sementara itu, sebanyak 126 wilayah justru mencatat surplus sangat tinggi dengan distribusi di atas 120%. Wilayah surplus tersebut mayoritas berada di Pulau Jawa dengan karakter kawasan urban dan metropolitan, kapasitas ekonomi rumah tangga lebih besar, serta basis kelas menengah muslim yang kuat.