Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan. Pada Senin (11/5), kurs rupiah menembus Rp 17.406 per dolar AS. Sepanjang 2026, nilai tukar tersebut telah terkoreksi sebesar 4,01%. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap tekanan biaya di sektor usaha maupun daya beli masyarakat.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja dunia usaha, terutama dari sisi biaya produksi. Meski pertumbuhan ekonomi makro masih terlihat solid, biaya operasional justru meningkat akibat depresiasi rupiah, sehingga menekan dunia usaha.
Bagi industri yang masih bergantung pada impor bahan baku, pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan cost of goods sold atau Harga Pokok Penjualan (HPP). Harga bahan baku impor yang semakin mahal menyebabkan beban produksi meningkat signifikan. Situasi ini mendorong banyak perusahaan melakukan efisiensi hingga menahan ekspansi bisnis demi menjaga stabilitas keuangan perusahaan.
Tidak hanya dunia usaha, pelemahan rupiah juga mulai dirasakan masyarakat. Akademisi UGM menilai, dampak tersebut tercermin pada naiknya harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga produk kesehatan. Selain itu, depresiasi rupiah turut membebani anggaran negara, khususnya pada subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri.
Ketergantungan terhadap komponen impor menyebabkan beban subsidi meningkat ketika rupiah melemah. Kondisi ini juga membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, maupun perlindungan sosial ke depan.